Peringati Hari Hutan Sedunia, 67 Organisasi Pemerhati Lingkungan Tanam 10.000 Pohon

22253

SuaraBanyuurip.com – Didik Jatmiko

Bojonegoro – Sebanyak 67 organisasi atau komunitas pemerhati lingkungan di kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur, yang tergabung dalam Gerakan Lestari Alam Raya (GELAR) kembali melakukan penanaman 10.000 pohon, Minggu (21/3/2021). Kegiatan bertajuk Aksi GELAR#2 ini dalam rangka memperingati Hari Hutan Sedunia yang jatuh pada 21 Maret.

Sebelumnya mereka juga melakukan aksi serupa pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) pada 28 November 2020. Ada satu juta pohon yang ditanam di 19 titik.

Sedangkan pada Aksi Gelar#2 ini penanaman 10.000 pohob menyasar di 17 titik di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban. Jenis pohon yang ditanam adalah sirsak, jambu, nangka, mangrove, trembesi, sengon, tabebuya, alpukat, mahoni, dan gayam.

Aksi GELAR#2 diikuti oleh lebih dari 2.000 relawan Bojonegoro dan Tuban yang  terdiri dari berbagai lapisan unsur masyarakat mulai dari organisasi atau komunitas,  karang taruna, pemerintah desa, masyakarat sekitar hingga masyarakat umum. 

Penanaman pohon di wilayah Bojonegoro kali ini diprioritaskan di kawasan hutan tepatnya di Wilayah Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) Petak 1 KRPH Ngunut BKPH Dander. Selain itu di kawasan-kawasan lainnya seperti di bantaran Sungai Bengawan Solo, kawasan konservasi sumber mata air, sendang, embung, dan fasilitas publik lainnya. 

Baca Juga :   Miftahul Huda Jadi Ketua KNPI Bojonegoro 2020-2024 Secara Aklamasi

Koordinator Aksi Gelar #2, Siti Nurhidayah menjelaskan alasan dipilihnya kawasan hutan sebagai prioritas penanaman pohon karena dalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi deforestasi atau penebangan hutan di Indonesia secara massif. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, lanjut Ida, panggilan akrabnya, luasan hutan di Indonesia setiap tahun berkurang lebih dari 462,4 ribu hektar. Lebih makro lagi, kondisi hutan di Jawa Timur cukup menjadi  sorotan, dengan jumlah penduduk terbesar kedua dan jumlah penduduk miskin  terbanyak memberikan potensi peningkatan deforestasi setiap tahunnya. 

Catatan BPS, kata Ida, sebanyak 5,8 ribu hektar hutan di Jawa Timur berkurang pada tahun 2019. Meskipun angka ini turun 34% dari deforestasi tahun sebelumnya, namun terjadi peningkatan pada deforestasi di dalam kawasan hutan sebesar 50%. Jika ini terus berlanjut, umur hutan di Indonesia tidak akan lebih dari 2 abad. Selain itu, dampak yang sudah diperlihatkan alam sudah mulai terlihat seperti cuaca ekstrim, kekeringan, longsor, banjir bandang dan lain-lain. 

“Karena itu totalitas komitmen pelestarian hutan sangat perlu untuk terus dilakukan,” tegasnya.

Baca Juga :   Bengkel Resmi Mitra Pertamina di Bojonegoro Layani Cepat Antrean Kendaraan

Pantauan Global Forest Watch tentang hilangnya tutupan hutan di Wilayah Bojonegoro, dari tahun 2001 hingga tahun 2019 tutupan pohon menyusut sebanyak  3.270 Ha. Dan Yang terparah pada tahun 2011, tutupan pohon menyusut 713 Ha. Jumlah itu lebih parah dibandingkan tahun 2019 tutupan pohon menyusut 403 Ha. 

“Deforestasi yang terjadi telah menyebabkan terjadinya dampak negatif berupa bencana alam banjir bandang, erosi, hingga tanah longsor,” beber Ida.

Menurutnya, Hari Hutan Sedunia yang jatuh pada 21 Maret ini menjadi momentum menggerakkan kembali spirit melestarikan  lingkungan. Aksi GELAR#2 dilakukan secara sukarela dan bersama-sama sebagai bentuk  kampanye sekaligus contoh gerakan serentak oleh masyarakat dan sukarelawan. 

“Melalui Aksi GELAR#2 kami harapkan dapat memperbaiki kelestarian lingkungan dan  meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya merawat bumi agar tetap  lestari. Selain itu bisa mengurangi atau menghapus dampak negatif dari deforestasi yang terjadi,” pungkasnya.(dik)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *