Harga Stabil, Tiga Hari Sekali Petani Ring 1 Proyek Gas JTB Raup Hasil Rp180.000

22448

SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko

Bojonegoro – Sejumlah masyarakat desa hutan yang kesehariannya beraktivitas sebagai petani kini mulai panen raya kacang tunggak. Dimana tanaman komoditas tersebut masih satu jenis dengan kacang panjang. Tumbuhan ini relatif tahan kering dan biasanya ditanam petani dalam skala kecil secara tumpangsari dengan jagung, ubi kayu, dan serupa lainnya sebagai sumber bahan pangan.

Seperti dilakukan salah satu petani Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Dami. Petani desa ring satu lapangan Gas Jambaran-Tung Biru (JTB) tersebut menanam kacang tunggak di lahan Perhutani wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Clangap, Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro, yang tak jauh dari lokasi proyek Gas Processing Facility (GPF) JTB.

Menurut Dami, dipilihnya menanam kacang tunggak, selain tahan kering dan bisa ditanam tumpang sari juga perawatannya cukup mudah. Sedangkan kacang tunggak banyak variasi bentuknya.

“Tanaman ini dikenal dengan beberapa nama, seperti kacang dadap, kacang otok dan kacang tolo,” kata Dami disela-sela memanen kacang tunggak, Minggu (18/04/2021).

Baca Juga :   Pasokan Jagung di Jatim Aman

Jika pertumbuhannya normal, kata Dami, kacang tunggak usia tanam sekira 60 hari atau dua bulan sudah bisa dipanen. Ia memilih menanam di lahan Perhutani perawatannya lebih mudah, dan tidak menggangu tanaman lainnya. Selain itu lahan pertanian yang dimiliki tidak begitu luas.

“Kalau ditanam di sawah, apalagi musim hujan pertumbuhannya kurang bagus karena kondisi tanah terlalu basah. Selain itu juga bisa mengganggu tanaman lain kalau tidak rutin menempatkan batang kacang dipematang sawah,” jelasnya.

Ditambahkan, untuk harga jual kacang tunggak relatif stabil dalam setiap musimnya dibanding tanaman komoditi lainnya. Tahun ini harga perkilogram (Kg)-nya Rp. 9000. Selain menanam kacang tunggak, lahan perhutani yang digarapnya juga ditanami kacang tanah, dan singkong.

“Saya garap lahan perhutani tidak luas, tapi alhamdulillah setiap tiga hari sekali dapat manen satu sak kacang tunggak, saat saya jual rata-rata bobotnya 20 Kg. Jadi rata-rata dapat uang Rp. 180.000 setiap tiga harinya. Berapapun hasil yang saya dapat tetap tak syukuri saja untuk kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

Baca Juga :   Anugerahkan SNI, Wamendag: Revitalisasi Pasar Rakyat Perkuat Pemulihan Ekonomi Nasional

“Selain harga jualnya lumayan bisa dirasakan karena perawatan mudah tidak membutuhkan biaya banyak, kacang tunggak ini juga bisa dibuat sayur,” sambung Parti petani hutan lainnya.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *