SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Para pedagang emas di seputar kota Bojonegoro, Jawa Timur, mengeluhkan sepinya pembelian emas. Daya beli masyarakat kota minyak dan gas bumi (Migas) sebutan lain Bojonegoro cenderung menurun akibat dampak pandemi Covid-19, selain itu disinyalir juga karena harga emas di akhir pekan ini merangkak naik.
Sekretaris Asosiasi Pedagang Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Bojonegoro, Gandhi Koesmianto mengatakan, pantauan pergerakan harga emas dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama adalah faktor harga emas internasional yang ukurannya troy per ons.
Sedangkan faktor penggerak harga emas yang kedua dipengaruhi fluktuasi nilai kurs Rupiah terhadap US Dollar. Jika mata uang rupiah terhadap dollar melemah, maka harga emas mengalami kenaikan.
“Dalam data kami, harga emas murni 24 karat cenderung ada kenaikan. Tetapi naiknya harga emas ini bukan karena menjelang lebaran. Melainkan karena terjadi penguatan rupiah terhadap dollar,” terang Koh An, sapaan akrab Gandhi Koesmianto kepada SuaraBanyuurip.com, Minggu (09/05/2021).
Sementara, pada H-4 menjelang lebaran Idul Fitri 1442 H/ 2021 kali ini, Koh An mengaku masih sepi pembeli. Kendati ada sedikit peningkatan jika dibandingkan awal bulan ramadhan tahun ini.
“Sedikit ada peningkatan penjualan mendekati lebaran ini. Tapi, secara umum bisa dikatakan masih sepi pembeli. Kuat diduga salah satunya karena daya beli masyarakat menurun akibat pandemi,” tutupnya.(fin)