SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Kebijakan pelarangan mudik dari Pemerintah Pusat, berimbas pada strategi penjualan kerupuk klenteng. Akibatnya, produsen kerupuk legendaris asli Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang berdiri sejak 1929 ini harus memutar otak lebih keras dalam strategi melayani pembeli fanatiknya untuk bernostalgia mendapatkan kerupuk dari kampung halaman. Gerai bergerak adalah salah satu solusinya.
Para pemudik yang biasa bernostalgia dengan memborong kerupuk yang juga lazim dikenal nama kerupuk bang jo dari kampung halaman nan kaya minyak dan gas bumi (migas) sebutan lain Bojonegoro itu sekarang tetap bisa menikmati kerupuk asal tanah kelahiran dengan memanfaatkan jasa ekspedisi dan memperolehnya dari Gerai Kerupuk Klenteng yang tersedia.
Penerus Usaha Kerupuk Klenteng generasi ke empat, Anton Indarno mengungkapkan, pada lebaran Idul Fitri sebelum ada pelarangan mudik tahun 2020 lalu, para pemudik biasa memborong kerupuk produk usahanya. Baik ketika kedatangan maupun saat balik ke kota besar tempat mereka bekerja.
“Pemudik asal Tuban, Bojonegoro, Lamongan, dulu sebelum ada larangan mudik biasanya ada tradisi membeli kerupuk klenteng langsung ke sini. Sampai terjadi antrean panjang hingga ke parkiran luar dekat pagar,” kata Anton kepada SuaraBanyuurip.com, Rabu (12/05/2021).
Setelah ada pelarangan mudik, kata Anton, terjadi penurunan tingkat pembelian. Namun, untuk kalangan pembeli di luar kota dengan kemampuan ekonomi tertentu masih melakukan pembelian dengan memanfaatkan jasa ekspedisi.
“Sayangnya, rekan jasa pengiriman kami sudah tutup sebelum lebaran. Tapi, keadaan ini kami atasi dengan cara pengadaan gerai bergerak. Salah satunya di Surabaya, yang kami luncurkan beberapa waktu lalu sebelum diundang bazar di Bakorwil Surabaya,” terangnya.
Salah satu pemudik asal Jakarta, yang sempat pulang sebelum penyekatan, Dina Mei mengaku, kerupuk bang jo adalah salah satu makanan yang baginya perlu dinikmati saat pulang kampung.
“Bukan cuma rasa sih, tapi juga kenangan, suasana masa kecil di Bojonegoro pas makan pakai lauk kerupuk bang jo. Makanya ini saya beli sampai empat kilo, buat nostalgia. Sebagian buat dibawa balik ke Jakarta,” ujarnya.(fin)