Budidaya Jamur Tiram, Diny Angraeni Bisa Raup Omzet hingga Rp 7 juta

22652

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro – Diny Angraeni mulai mengenal jamur tiram sejak 2016 lalu. Ia kemudian mempunyai keinginan membuka usaha budidaya jamur tiram. Usaha itu pun terwujud di rumahnya di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Dengan modal awal Rp 1 juta, kini omzet usaha Diny mencapai Rp 7 juta dalam sekali panen. 

Awalnya Diny membuka usaha dengan tiga rak baglog jamur tiram yang ia taruh di dapur. Karena tempat dirasa kurang luas akhirnya ia membuat lumbung budidaya jamur tiram di luar.

“Saya membeli baglog jamur tiram coklat ini dari Tulungagung. Jadi, tidak membuat sendiri karena terlalu rumit dan membutuhkan dana cukup banyak,” katanya, Selasa (25/5/2021).

Diny saat ini sedang membudidayakan 1.300 baglog jamur tiram meski lumbungnya bisa menampung 2.000 baglog. Satu baglog, kata dia, bisa bertahan hingga 7 bulan, akan tetapi kekuatan setiap baglog berbeda.

Media tanam dari baglog seperti serbuk gergaji halus. Namun, yang cocok untuk jamur tiram coklat ini dari serbuk kayu sengon. Sebab, jika dari kayu lainnya kurang begitu bagus.

Baca Juga :   Sejak Maret 2022, Citilink Hentikan Layanan Penerbangan di Bandara Ngloram

Baglog itu, dikeluarkan dan langsung diisi dengan bibit jamur tiram. Jamur tiram ini ada beberapa warna dan perbedaan, di antaranya jamur tiram coklat, kuning, putih serta merah muda. Sedangkan, untuk jamur tiram coklat lebih tebal dibandingkan dengan lainnya.

“Kalau untuk panennya empat bulan sekali mulai dari awal tanam. Meski setiap hari juga jamur ini tumbuh tapi tidak sebanyak waktu panen. Bahka, satu baglog bisa panen tujuh kali,” ungkap, perempuan asal Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas itu.

Sedangkan, dalam pemasaran masih di lokal Bojonegoro yakni dari pasar ke pasar misalnya Pasar Tanjungharjo dan Pasar Mojoranu. Namun, Diny akan tetap mengembangkan budidaya jamurnya dan memperluas pemasarannya.

Meski jangkauan pasar belum meluas, saat ini Diny bisa meraup omzet hingga Rp 7 juta selama satu kali panen. Selain itu, bentuk jamur yang seperti cangkang tiram ini bisa dibuat olahan makan, atau juga produk camilan seperti keripik jamur atau jamur krispi.

“Kedepan, ingin terus mengembangkan dan memperbanyak budidaya jamur tiram. Terutama juga memasarkan keripik jamu tiram,” ungkapnya.(jk)

Baca Juga :   Iduladha, Orderan Jasa Bakar Kepala Sapi dan Kambing di Bojonegoro Meningkat

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *