Komisi C Tegaskan Komitmen Kawal Isu Stunting di Bojonegoro

22691

SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko

Bojonegoro – Angka balita stunting di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menurut data Dinas Kesehatan Jawa Timur (Dinkes Jatim) termasuk tinggi. Yakni mencapai lebih dari 20%. Sehingga Bojonegoro menjadi lokus stunting. Banyak balita yang gagal berkembang fisik dan otaknya gara-gara kekurangan gizi dan salah pola asuh.

Hal tersebut disampaikan anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro, Natasha Devianti, dalam seminar Diseminasi Hasil Penelitian Model Penanggulangan Stunting dì Kabupaten Bojonegoro yang dilaksanakan oleh Fatayat yang bekerjasama dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Senin (31/5/2021).

Menurut perempuan yang akrab dipanggil Sasa itu, Komisi C sangat concern terhadap masalah kesehatan masyarakat, termasuk diantaranya isu stunting.

“Makanya kami mengapresiasi EMCL dan Fatayat, karena telah melakukan audiensi kepada Komisi C sejak sebelum melakukan penelitian dan ketika penelitian ini menghasilkan rekomendasinya,” ucap Sasa.

Namun dia berharap, diskusi ini tidak hanya menjadi wacana, seremonial, dan berhenti pada tataran konsep. Tapi butuh aksi, bukan hanya sekedar diskusi. Meskipun terkadang solusi muncul dari sebuah diskusi yang efektif.

Baca Juga :   Sudah Digelontor Rp 22,54 Miliar, Pembangunan Rumah Sakit Khusus Kanker Bojonegoro Mendadak Dibatalkan

“Soal stunting, saya concern soal data. Saya dengar dari kolega saya di Provinsi, bahwa Kabupaten Bojonegoro masuk Lokus Stunting. Sedangkan disini saya lihat jumlah stunting rendah. Mana yang benar?,” tegasnya dalam surat elektronik yang diterima Suarabanyuurip.com.

Sasa juga menambahkan bahwa stunting harus dituntaskan dari hulu ke hilir. Mulai dari birokrasi PKK yang kait berkait dengan OPD – OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang ada di Pemerintah Kabupaten (Pemkab), soal pendanaan posyandu, dan program Pemerintah yang efektif dan efisien tepat sasaran dalam meningkatkan kualitas pelayanan posyandu.

Pemkab Bojonegoro, kata Sasa, seharusnya lebih terbuka dengan semua elemen dalam menangani stunting ini.

“Ayolah kita bareng-bareng, kerja bersama. Kalau memang ada ketidakcocokan data, ayo kita perbaiki sama-sama,” tandasnya.

Sasa melanjutkan, sebagai ibu seorang balita, sebagai perempuan, sebagai anak muda, ingin mengajak semua ibu-ibu, perempuan muda, dan anak muda Bojonegoro untuk menyadari betapa pentingnya memiliki pemahaman tentang pentingnya masalah kesehatan ibu dan balita.

“Sebagai wakil rakyat di DPRD Bojonegoro, saya berkomitmen akan terus menyuarakan isu kesehetan ini, terutama persoalan stunting yang cukup mengkhawatirkan di Kabupaten Bojonegoro,” pungkasnya.

Baca Juga :   2 SPPG MBG di Kedungadem Bojonegoro Ditutup Sementara, Terbukti Gunakan Air Tak Higienis

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro yang diwakili oleh Kabid Kesmas, Dr Lucky lmroah mengatakan, bahwa perbedaan data kabupaten dengan provinsi saat ini sedang ada sinkronisasi. Dinkes Bojonegoro, kata dia, sudah melalukan berbagai upaya dan cara dalam menanggulangi stunting.

“Kita sedang berusaha melakukan yang terbaik,” ungkap Lucky.

Pada seminar yang diinisiasi EMCL tersebut, tampak hadir Kepala Dinas Kesehatan, Dinas P3KAB, Pemerintah Kecamatan Kota Bojonegoro, Pemerintah Kecamatan Kedungadem, para kader posyandu dari 8 desa di Kecamatan Kota dan Kedungadem.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *