SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Sebanyak 150 Kepala Keluarga (KK) yang berprofesi sebagai perajin gerabah di Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terpaksa harus menutup lapak dagangannya. Musababnya, gerabah dagangan mereka tidak bisa dipasarkan akibat dampak dari pandemi Corona atau COVID-19.
Dari total perajin gerabah tersebut, hanya tinggal seorang perajin warga Rendeng yang masih mendapat keberuntungan dalam usaha kerajinan gerabah. Ia adalah Sapraun. Saat disambangi SuaraBanyuurip.com, Sapraun masih sedang mengecat sisa stok gerabah miliknya, dan dibaantu dua asisten yang setia menunggu kedatangan pembeli.
Kerajinan gerabah yang digarapnya bervariasi, ada berupa patung hewan sapi, harimau, gajah mulai ukuran kecil hingga terbesar seukuran kambing jantan dewasa.
“Di Rendeng ini sekarang tinggal dagangan saya yang masih ada pembelinya. Yang lain sudah ditutupi kain terpal semua dagangannya,” ungkapnya, Sabtu (24/07/2021).
Kendati, arus kedatangan pembeli ke lapaknya yang digelar di kediamannya juga mengalami penurunan drastis. Tak lagi selancar sebelumnya. Pria 60 tahun ini mengaku, belakangan ini pekerjaan yang dilakoninya tersendat-sendat. Karena tidak selalu ada pembeli.
“Kerja satu hari, sepuluh hari berikutnya berhenti kerja. Lalu nyambung lagi, kerja lima hari berhenti lagi. Begitu seterusnya,” ujar pria lanjut usia.
Sapraun merasa beruntung, yang sesekali masih ada pembeli gerabah karyanya. Sehingga di usianya yang terbilang senja, ia bersyukur masih mampu membuat dapurnya tetap berasap.
“Alhamdulillah masih dikasih rejeki sama Allah. Gerabah saya harganya per buah juga masih sama. Yakni Rp 20.000 untuk yang paling kecil dan Rp 100.000 yang paling besar,” ucapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa (Kades) Rendeng, Muslih, membenarkan, bahwa tinggal Sapraun saja satu-satunya warga Rendeng yang masih aktif sebagai perajin gerabah. Tercatat, sejumlah 150 KK dari 322 KK berprofesi sebagai perajin gerabah di Desa Rendeng dengan beragam keahlian.
“Mulai pembuat gerabah mentah sampai pengecatan atau finishing,” ucapnya.
Akibat pandemi, lanjut Muslih, kini para perajin beralih profesi semampunya sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang beralih berdagang pentol keliling, pemulung barang bekas dan sebagainya. Bagaimana tidak, barang kerajinan yang sedianya bisa dipasarkan ke luar daerah, kini tak lagi bisa.
“Padahal sebelumnya, tiap ada event pameran di luar Bojonegoro, gerabah Rendeng selalu hadir mewarnai,” ujarnya.
Muslih mengaku, prihatin atas keadaan warganya, namun Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) sendiri yang turut mengelola hasil dari para perajin belum bisa berbuat banyak. Karena, kalau membeli kerajinan tanpa kejelasan pemasaran, dikhawatirkan justru merusak kualitas barang karena tidak segera laku.
“Total dari 322 KK, 150 KK ini mata pencahariannya bergantung pada kerajinan gerabah. Ini setengah dari total KK di Desa Rendeng,” tandas Kades Muslih.
Sebelum para perajin tutup lapak terdampak wabah Corona, kata Muslih, perputaran keuangan berasal dari basis kerajinan gerabah mampu mencapai Rp. 20 juta tiap minggunya. Sampai-sampai, ia menggagas satu lapak kuliner untuk tiap Rukun Tetangga (RT), sejumlah tujuh RT.
“Harapan saya, pandemi segera berakhir. Agar ekonomi kembali normal. Kasihan warga kami,” tutupnya.(fin)