SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro -Â Kantor Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memberikan penghargaan dan apresiasi kepada 14 Guru Tidak Tetap (GTT) di aula kantor Cabdindik, Senin (23/08/2021).
Penghargaan dan apresiasi kepada 14 GTT di dua wilayah kabupaten tersebut diberikan setelah sebelumnya diseleksi oleh panitia. Dengan beberapa komponen yang harus dipenuhi oleh para GTT.
“Komponen yang harus dipenuhi meliputi portofolio yang diserahkan, mempunyai masa kerja minimal 10 tahun, mendapat rekomendasi dedikasi dari kepala sekolah, dan kondisi ekonominya kurang beruntung,” kata ketua panitia seleksi, Agus Huda, kepada SuaraBanyuurip.com.
Kemudian, menjadi pertimbangan juga adalah beban keluarga yang ditanggung, jarak tempuh dan kesulitan medan menuju sekolah.
“Serta prestasi yang dimiliki oleh GTT,” ujarnya.
Latar belakang kegiatan itu, lanjut Agus, disebabkan banyak GTT yang dinilai mempunyai nasib kurang beruntung, namun memiliki pengabdian yang luar biasa. Tercatat ada GTT yang telah mengabdi selama 24 tahun dengan gaji hanya Rp 300 ribu per bulan.
“Ada pula GTT yang harus menempuh jarak sejauh 32 kilometer dari rumah menuju sekolah setiap harinya. Berangkat pagi pulang menjelang magrib,” terangnya.
Terpisah Kepala Bank Jatim Bojonegoro, Hero Sasongko Perdana Putra, mengaku merinding mendengar pernyataan Agus Huda. Hal tersebut diluar bayangan yang ada di benaknya.
“Saya betul-betul merinding, masa pengabdiannya pun ada yang sampai separuh umur saya. Tapi dedikasinya luar biasa,” ujarnya.
Sementara, Kepala Cabdindik Bojonegoro-Tuban, Adi Prayitno menjelaskan, tujuan pemberian penghargaan kepada 14 GTT berprestasi di wilayah dinasnya adalah sebagai bentuk apresiasi dan memberikan motivasi agar mampu berkiprah lebih baik lagi.
Selain itu, GTT sering dipandang sebelah mata. Padahal, kewajiban mereka sama dengan ASN (Aparatur Sipil Negara) yang berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil). Yakni mencerdaskan para murid. Tetapi haknya tidak sama. Dengan diadakan kegiatan penghargaan berupa sertifikat prestasi, diharapkan mampu membuka mata dan kepedulian berbagai pihak.
“Calon penghuni surga itu ya anda sekalian, karena kerjanya sama kesejahteraannya tidak sama,” ucap Adi.
Dengan gaji yang sejahtera, kata Adi, berdedikasi adalah hal yang wajar. Tetapi mempunyai gaji dibawah kelayakan kesejahteraan tentu luar biasa.
Bahkan, Adi mengungkapkan jika menjadi GTT mengalami kesengsaraan lahir dan batin. Pasalnya, ia pernah mengalami sendiri menjadi GTT dengan gaji Rp 10.000 per bulan.
“Sampai-sampai mau usul saja itu lominder, karena mengingat status sosialnya. Saya pernah merasakan itu,” tandasnya.
“Oleh karenanya saya apresiasi sekali. Harapan saya, kepada para GTT bisa berdedikasi lebih baik lagi,” imbuhnya.
Selain pemberian hadiah dan sertifikat prestasi, kegiatan ditandai pemberian tabungan secara simbolis senilai Rp 2,5 juta dari Bank Jatim Bojonegoro dan Tuban.
“Mohon jangan lihat Rp 2,5 juta-nya. Tapi lihat perhatiannya, kepeduliannya. Ini adalah motivasi untuk kita semua,” tutupnya.(fin)