Hand Sanitizer dari Lidah Buaya, Inovasi Unggulan SMPN 7 Bojonegoro

23261

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 7 Bojonegoro, Jawa Timur, membuat handsanitizer berbahan campuran olahan tanaman lidah buaya dan alkohol 70 persen sebagai inovasi yang diunggulkan untuk menjadi ikon sekolah dalam program adiwiyata tingkat nasional.

Pembuatan handsanitazer itu dilakukan dilatar belakangi adanya pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 yang hingga saat ini belum ada tanda-tanda berakhir.

Kepala SMPN 7 Bojonegoro, Slamet mengungkapkan, lidah buaya atau tanaman bernama latin aloe vera dipilih menjadi ikon sekolah berdasarkan asas manfaat. Selain itu juga dilatarbelakangi adanya pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 hingga 2021 yang belum berakhir. Dimana handsanitizer menjadi barang yang banyak diburu sehingga berharga sangat mahal.

“Lidah buaya punya banyak manfaat, selain secara kosmetika, juga mempunyai manfaat alami sebagai disinfektan yang bisa membunuh bakteri dan kuman,” kata Slamet kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (04/09/2021).

Lebih dari setahun, kata Slamet, lidah buaya telah dimanfaatkan di lingkungan keluarga SMPN 7 Bojonegoro. Selain merupakan tanaman yang sudah dibudidaya di pekarangan sekolah, menggunakan lidah buaya sebagai bahan dasar campuran disinfektan dianggap sebagai cara mudah dan murah mendapatkan handsanitizer.

Baca Juga :   Menjemput Asa Melalui Bonggol Jagung

“Dari dua bilah lidah buaya ukuran sedang, dapat dihasilkan handsanitizer sekira 150 mililiter,” terangnya.

Perihal ikon sekolah dalam program adiwiyata, Slamet mengaku, agar anak didik bisa menerapkan sesuai tujuan adiwiyata. Bukan semata-mata kejuaraan yang dicari. Tetapi lebih pada menanamkan karakter kepada warga lingkungan SMPN 7 Bojonegoro.

“Berkenaan adiwiyata, edukasi kami lebih kepada penerapan cinta lingkungan,” tandasnya.

Dengan kondisi kendala lingkungan sekolah yang relatif kecil hanya berukuran 2.600 meter persegi, Slamet berusaha seoptimal mungkin. Agar kepedulian terhadap lingkungan hidup dapat diterapkan. Terbukti, tahun 2019 lalu SMPN 7 Bojonegoro telah meraih predikat sekolah adiwiyata tingkat provinsi Jawa Timur.

Selain diolah menjadi disinfektan alami, lanjut pria yang tinggal di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, pihaknya juga berinovasi mengolah lidah buaya menjadi cendol, nata de coco, dawet, dan puding.

“Prinsipnya, bukan menang lomba bagi kami. Tetapi bagaimana anak didik kami bisa memahami pentingnya cinta dan peduli lingkungan hidup. Sehingga mampu bermanfaat bagi lingkungan dimanapun mereka berada,” tutupnya.

Baca Juga :   Satu Tahun Kepemimpinan Bojonegoro, Unigoro dan UGM Berikan Catatan Khusus Program Prioritas

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Panca Sulistyorini, menunjukkan bagaimana proses pembuatan handsanitizer berlangsung. Diawali mempersiapkan alat, antara lain blender, pisau, saringan dan botol spray. Bahan dasar lidah buaya, jeruk nipis, dan minyak essensial lavender, serta alkohol 70 persen.

Setelah lidah buaya dibersihkan lalu dikupas, selanjutnya diblender hingga halus. Ditambahkan alkohol sekira 8 sendok makan dan jeruk nipis sebagai aroma, atau essense lavender. Kemudian agar lebih bersih, bahan campuran tadi disaring terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam botol spray agar siap digunakan.

“Handsanitizer lidah buaya ini punya kelebihan tidak menyebabkan kulit menjadi kering,” ujar perempuan guru prakarya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *