Telan Investasi Rp 57 Triliun, Blok Cepu Sumbang Pendapatan Negara Rp 249 Triliun

23519

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Jakarta – Produksi minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur hingga awal bulan Oktober 2021 ini menembus 500 juta barel (1 barel = 159 litee). Realisasi produksi tersebut jauh di atas target rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) sebesar 450 juta barel.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas), Dwi Soetjipto mengungkapkan biaya yang digelontorkan ExxonMobil sejak tahun 2008 mencapai Rp 57 triliun. Namun investasi itu dibayar dengan produksi optimal Blok Cepu. Selain itu produksi kumulatif 500 juta barel minyak tersebut, wilayah kerja (WK) Cepu mampu memberikan penerimaan negara sebesar empat kali lipat dibandingkan nilai investasinya. 

 “Sejak 2008, dengan total investasi sekitar Rp 57 triliun, Blok Cepu telah memproduksi 500 juta barel minyak mentah dan berkontribusi lebih dari Rp 249 triliun bagi pendapatan negara dalam bentuk minyak mentah dan pajak,” kata Dwi di Jakarta (7/10/2021). 

Berdasarkan kajian teknis yang dilakukan, lanjut dwi, cadangan minyak Lapangan Banyu Urip juga meningkat lebih dari dua kali lipat dari PoD awal. Yakni dari sebelumnya 450 juta barel menjadi 940 juta barel. 

 “Peningkatan ini tentunya memberikan manfaat besar bagi penerimaan negara yang optimal serta multiplier effect bagi perekonomian lokal,” tegas mantan Direktur Utama Pertamina itu. 

Dwi mengungkapkan, di awal PoD Banyu Urip, tingkat periode plateau diperkirakan berlangsung sekitar 2 tahun dengan tingkat produksi rata-rata tahunan sebesar 165 ribu barel minyak per hari (BPH). Namun, sejak full facility dimulai pada Januari 2016, puncak produksi dapat dicapai selama lebih kurang 5 tahun di angka 185 ribu hingga 225 ribu BPH. Produksi tersebut termasuk tambahan 10 ribu BPH dari lapangan Kedung Keris sejak Desember 2019.

Baca Juga :   Tunggu Sosialisasi Lanjutan Pad C

“Banyu Urip berada di puncak produksi selama lima tahun, lebih lama tiga tahun dari yang diantisipasi semula,” tandasnya. 

Lapangan migas yang sebelumnya dikelola Humpuss – Blok Cepu – tersebut sekarang ini mengalami penurunan reservoir secara alami karena karakter reservoir alami yang berlaku umum di seluruh dunia. Namun demikian, Dwi mengatakan pihaknya terus berupaya bersama EMCL untuk menjaga tingkat penurunan produksi yang terjadi.  

“Bersama EMCL, kami berkoordinasi secara aktif untuk menjaga tingkat produksi WK Cepu, hal ini dilakukan mengingat WK Cepu menjadi salah satu tulang punggung dalam upaya mencapai produksi nasional 1 juta BPH di 2030,” ungkap Dwi. 

Fasilitas WK Cepu dibangun oleh lima konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan Indonesia. Lebih dari 460 perusahaan nasional dan lokal juga turut berpartisipasi dalam mendukung pengembangan dan operasi di WK tersebut. Tidak hanya meningkatan pengembangan kinerja organisasi, perusahaan-perusahaan ini juga mendapatkan manfaat berupa transfer pengetahuan dan teknologi. 

Selain itu, SKK Migas – EMCL juga merealisasikan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) senilai lebih kurang Rp 327 miliar sejak pengembangan WK Cepu dimulai. Lebih dari 200.000 masyarakat Indonesia telah mendapatkan manfaat dari program ini melalui bidang kesehatan, pendidikan, dan pembangunan ekonomi yang selaras dengan tujuan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  

Baca Juga :   Konstruksi Selesai Tahun 2017

President ExxonMobil Indonesia, Irtiza Sayyed mengatakan, keberhasilan Pengelolaan WK Cepu ini merupakan hasil kemitraan yang baik antara Kementerian ESDM, SKK Migas, ExxonMobil Cepu Limited, dan para mitra yakni PT Pertamina EP Cepu dan BKS PI Blok Cepu. Pihaknya juga berterima kasih kepada Pemerintah Pusat dan Daerah serta masyarakat sekitar atas dukungan berkelanjutan dari mereka terhadap operasi WK Cepu.  

“Pencapaian ini juga merupakan bukti dari kemampuan ExxonMobil dalam membuat desain proyek kelas dunia dengan operasi yang aman dan kredibel, pengelolaan reservoir yang sangat baik, serta manajemen operasi yang andal oleh tenaga kerja Indonesia berkelas dunia,” tandasnya. 

Data suarabanyuurip.com, pada Rabu, 9 Juni 2021 lalu, total produksi komulatif Banyu Urip menembus 457 juta barel dengan jumlah pengapalan sebanyak 700 kali. Upacara pengapalan dipimpin dan disaksikan Menteri ESDM Arifin Tasrif di kapal alir muat terapung/ floating storage and offloading (FSO) Gagak Rimang, di lepas pantai Palang, Kabupaten Tuban, Jatim.(suko) 



»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *