SuaraBanyuurip.com -Â Joko Kuncoro
Bojonegoro – Memasuki musim hujan pada November, banyak petani Bojonegoro masih proses memanen tembakau, yakni ada 5.470 hektare. Hal itu, karena sebagian petani di Bojonegoro telat untuk menanam tembakau.
“Akibatnya, kualitas tembakau rendah dan akan mempengaruhi harga jual dari petani,” kata Imam Nurhamid Kabid Pangan Holtikultura dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro.
Dia mengatakan, panen tidak merata karena sebagian petani saat menanam tembakau tidak sesuai jadwal. Seharusnya pada bulan enam sudah mulai menanam dan panen raya bisa dilakukan serentak.
Panen raya tembakau, dia melanjutkan, sudah dimulai Oktober lalu. Namun, saat ini masih ada 5.470 hektare sebagian lahan tanaman tembakau di Bojonegoro masih proses panen. Terutama di tiga kecamatan meliputi Kecamatan Kanor, Baureno, dan Kepohbaru.
“Rinciannya, untuk petani yang masih proses panen meliputi 1.085 hektare di Baureno, 4.000 hektare di Kepohbaru, dan 385 hektare di Kanor. Namun, sebagian sudah dipanen dan ada juga yang proses,” katanya, Senin (8/11/2021).
Petani di tiga kecamatan mundur saat menanam tembakau karena sebagian masih ada yang tanam padi. Hal itu, yang menyebabkan panen tidak merata dan mempengaruhi kualitas tembakau.
“Harga jual juga menurun, yakni di bawah Rp 20 ribu untuk tembakau rajangan. Biasanya untuk harga normal Rp 27 ribu. Ini karena kualitas rendah,” tambahnya.(jk)