SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerja sama dengan Yayasan Daun Bendera Nusantara (FIELD) menggelar sekolah lapangan petani. Acara digelar di Gedung Serbaguna dan Olahraga Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (16/12/2021).
Sekolah lapangan petani bertajuk “Petani Mandiri, Pangan Tercukupi” itu diikuti berbagai lembaga di antaranya perwakilan petani anggota Sekolah Lapangan dari delapan desa, sebanyak 220 orang.
Ketua Panitia Jambore Petani Ahmad Ropingi mengatakan, tujuan kegiatan ini mempromosikan organisasi petani yang memiliki keahlian dan kemampuan dalam manajemen tanaman sehat. Juga, mengajak pihak-pihak lain seperti petani dari daerah lain, pemerintahan lokal dan nasional, LSM, Media, Akademisi, Private Sector) untuk menaruh perhatian lebih pada peningkatan kapasitas petani.
“Sebab, pertanian merupakan sektor ekonomi menjadi tumpuan bagi masyarakat perdesaan. Karena di sektor inilah masayarakat menggantungkan harapan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya.
Menurut dia, berdasarkan data BPS 2020, Provinsi Jawa Timur menyumbang produksi gabah terbesar di Indonesia. Bojonegoro selain sebagai daerah penghasil minyak juga merupakan daerah penyumbang produksi gabah terbesar ketiga setelah Lamongan dan Ngawi pada tahun 2020, yaitu sebesar 737.398 ton gabah kering giling.
Namun, ironisnya petani saat ini dihadapkan dengan persoalan besar yaitu masalah ekonomi. Hal ini disebabkan karena hasil produksi pertanian khususnya tanaman pangan padi masih rendah dan belum maksimal.
“Maka berdampak pada keuntungan pendapatan petani. Juga, tekanan perusahaan untuk menggunakan benih, pestisida, dan pupuk kimia, juga membebani petani dan mengakibatkan menurunnya keuntungan petani,” ungkapnya.
Hasil produksi petani, lanjut dia, rata-rata antara 5 hingga 6 ton per hektar, padahal potensi padi dapat menghasilkan sekitar 12 ton per hektar. Karena itu, petani perlu didorong untuk meningkatan pengetahuan dan ketrampilan bertani yang baik.
Dia mengatakan, hal tersebut agar bisa meningkatkan produksi yang lebih baik. Juga, meningkatkan ekonomi petani dengan mengembangkan mata pencaharian alternatif sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
“Dan sebagai bentuk tanggung jawab sosial EMCL untuk petani di sekitar wilayah operasinya membuat Program Pengembangan Masyarakat (PPM) FIELD Indonesia mengembangkan.
“Program Tindak Lanjut Peningkatan Produktivitas Usaha Pertanian Masyarakat Melalui Sekolah Lapangan†pada 2021,” kata Ahmad Ropingi.
Program ini, kata dia, juga merupakan tindak lanjut dari program sebelumnya yang dilaksanakan pada 2020 lalu. Yakni “Program Peningkatan Produktivitas Usaha Pertanian Masyarakat Melalui Sekolah Lapanganâ€.
Dia menambahkan, pada 2021 ini, juga telah dilaksanakan Sekolah Lapangan Tematik di delapan desa, yaitu Desa Ngraho, Sudu, Gayam, Mojodelik, Bonorejo, Brabowan, Sukoharjo, dan Leran. Sekolah Lapangan petani tematik inj merupakan kegiatan sekolah lapangan yang dikembangkan sesuai dengan keinginan belajar dan harapan masyarakat serta berdasarkan potensi setempat.
Selain itu, juga melakukan studi petani, pengembangan pertanian pekarangan, dan pengembangan pengolahan pasca panen. Dia melanjutkan, studi petani ini dilakukan untuk mempelajari dan menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh petani.
“Beberapa permasalah yang muncul adalah terkait dengan cahaya lampu, pemupukan, hama penyakit, tanah, air, perubahan iklim dan lain-lain,” tambahnya.
Perwakilan EMCL, Beta Wicaksono menegaskan program yang dilaksanakan ini merupakan dukungan nyata EMCL terhadap masyarakat sekitar khususnya masalah pertanian. Sehingga dapat mewujudkan pertanian yang sehat dan meningkatkan produktivitas pertanian.
“Dengan begitu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat petani,” pungkas Beta.(jk)