SuaraBanyuurip.com – d siko nugroho
Bojongoro — Operator Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama mitra pendamping, Ademos melaksanakan Peningkatan Kapasitas Pengelola Air bersih melalui Program Penataan Sumber Air di Desa Ngunut dan Desa Dander. Melalui kegiatan ini diharapkan pengurus nantinya dapat mengelola program air bersih secara profesional.
Ketua Ademos, Mohammad Kundori peningkatan kapasitas pengelola HIPPAM yang dilaksanakan ini merupakan langkah awal untuk meneruskan dan mengelola instalasi air yang sudah dibangun di masing-masing desa.
“Bangunan toren air dan instalasi yang sudah dibangun oleh ExxonMobil Cepu Limited, kemudian dari pihak desa bertugas untuk mengelola dan memanfaatkan instalasi air bersih untuk kepentingan masyarakat di Desa Ngunut dan Desa Dander,” pesan Mas Dhory, sapaan akrabnya saat membuka pelatihan di Panggon Sinau Bareng Ademos yang bertempat di Desa Dolokgede, Selasa (28/12/2021).
Peningkatan kapasitas pengelelola air bersih diikuti oleh pengelola HIPPAM dan BUMDesa dari Desa Ngunut dan Desa Dander. Selain itu juga mengundang pengelola HIPPAM dari Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Tambakrejo, untuk sharing tentang pengelolan HIPPAM.
“Pengelolaan HIPPAM akan berjalan baik kalau pengurus dan teknis lapangannya saling kompak. Dari tim yang saling kompak akan membawa sistem yang baik di desa sehingga HIPPAM bisa bermanfaat untuk masyarakat,†ujar Isnuri salah satu pengelola HIPPAM.
Senada disampaikan pengelola HIPPAM dari Desa Bonorejo, Ramin. Menurutnya, hal yang paling penting dalam mengelola HIPPAM yang berbasis masyarakat adalah pencatatan. Pencatatan harus dilakukan secara teliti dan akurat.
“Ini dilakukan untuk mempermudah dalam penarikan kepada anggota. Selain itu untuk mengatasi ketika ada pelanggan yang komplain,” ujarnya.
Perwakilan ExxonMobil Cepu Limited Joni Wicaksono menambahkan, program air bersih memiliki outputnya jelas, karena air merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Oleh karena itu, ketika infrastruktur sudah dibangun perlu dilakukan peningkatan kapasitas pengelolanya.
“Melalui pelatihan ini menjadi awal untuk berjuang dengan cara yang professional,” pesannya.
Pihaknya berharap program air bersih yang dilaksanakan ini bisa mengikuti prestasi program-program HIPPAM sebelumnya yang sudah ada.
“Banyak desa yang memiliki cerita sukses ketika mengelola air, bahkan bisa menghasilan PAD milayaran rupiah seperti Desa Ponggok, Klaten. Semoga Desa Ngunut dan Desa Dander bisa seperti desa yang sukses dalam mengelola air,” harap Joni.(suko)