Stok Minyak Goreng Langka, Produsen Tahu Bojonegoro Kebingungan

24481

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro – Stok minyak goreng di Bojonegoro, Jawa Timur hingga kini masih langka di pasaran. Akibatnya, produsen tahu di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro kebingungan karena tidak bisa memproduksi tahu.

Kelangkaan itu, terjadi semenjak pemerintah menetapkan kebijakan subsidi minyak goreng seharga Rp 14 ribu. Sehingga, kebijakan yang ditetapkan membuat stok minyak goreng di pasar modern maupun tradisional kosong.

Sekretaris Paguyuban Perajin Tahu Ledok Kulon, Edi Saputro mengatakan, kelangkaan stok minyak goreng di pasaran sangat berdampak bagi produsen tahu terutama di Ledok Kulon.

“Kami kebingungan minyak goreng langka. Hal ini membuat para perajin tahu tidak bisa produksi jika tidak mendapatkan minyak di pasar,” katanya, Minggu (13/2/2022).

Dia mengatakan, kesulitan menemukan stok minyak goreng di minimarket atau pasar tradisional. Padahal, harga minyak turun semenjak pemerintah menetapkan kebijakan subsidi minyak goreng seharga Rp 14 ribu. Namun setelah kebijakan ditetapkan minyak goreng mulai langka.

“Tadi mulai pukul 11.00 siang saya keliling dari pasar ke pasar mulai Pasar Kota, Sumberrejo, hingga Kepohbaru ternyata stok minyak goreng masih kosong. Itu baik minyak curah maupun kemasan,” katanya kepada suarabanyuurip.com.

Baca Juga :   Wakil Menteri ESDM Dorong UMKM Bojonegoro Naik Kelas, Ini yang Perlu Disiapkan

Dia menyayangkan adanya subsidi pemerintah namun minyak langka. Kondisi ini membuat para perajin tahu atau pedagang yang menggunakan minyak goreng kelabakan.

Sebab, tidak bisa produksi karena tidak adanya minyak goreng. Padahal, lanjut dia, harus memenuhi kebutuhan keluarga seperti makan dan menyekolahkan anak.

“Tentu kondisi ini sangat merugikan apalagi masyarakat yang memiliki usaha dan membutuhkan minyak goreng,” jelasnya.

Sebenarnya, Eko sapaan akrabnya melanjutkan, di pasar tradisional beberapa waktu lalu ada stok minyak goreng. Namun, harganya di jual umum yakni mulai Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu untuk minyak kemasan, tetapi sekarang stok kosong.

“Bahkan, jika ada stok minyak harus mengantri hingga tiga jam seperti di distributor. Jadi kasihan juga rumahnya yang jauh,” kata Eko.

Berbeda lagi, kondisi saat membeli minyak goreng di pasar modern. Maksimal, lanjut dia, hanya boleh membeli 2 liter minyak goreng berbanding terbalik dengan kebutuhan para produsen tahu.

“Yakni sehari kami memproduksi tahu bisa menghabiskan 55 liter minyak,” katanya.

Baca Juga :   Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 Dimulai Besok, Pamerkan Produk Unggulan 108 UMKM

Dia berharap, pemerintah pusat atau daerah bisa memberikan solusi agar kondisi minyak normal dan tidak langka. Hal ini, untuk keberlangsungan ekonomi keluarga atau masyarakat yang mempunyai usaha dan membutuhkan minyak goreng.(jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *