Sepanjang 2019 hingga 2021 Pertamina Rosneft telah menumpahkan anggaran Rp23 miliar untuk kegiatan CSR di lokasi kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Sedangkan di enam desa terdekat lokasi belum terasa geliat pemberdayaan untuk memandirikan warga secara masif.
———————————-
Segendang seirama disampaikan Suwarno dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Wadung, Kecamatan Jenu, Tuban. Tokoh masyarakat dari desa berpenduduk 2.613 jiwa yang menghuni tiga dusun, Bogang, Wadung, dan Boro Ringin, ini merasa belum muncul program pemberdayaan masyarakat dari Pertamina Rosneft menyasar warganya.
Ia pun terkaget begitu menerima informasi, jika Pertamina telah menghabiskan dana Rp23 miliar untuk kegiatan TJSL atau CSR. “Uang apa itu, dan dipakai untuk kegiatan apa? Di Wadung hanya membantu membangun mushola 100 juta,†kata tokoh masyarakat energik ini saat dikonfirmasi secara terpisah di desanya.
Dana bantuan dari Pertamina dan korporate asal negeri Vladimir Putin tersebut turun dua termin dengan nilai masing-masing 50 persen. Kemudian dipakai warga dari desa seluas 4,68 Km2 itu, untuk merehab dua mushola.
Lelaki ramah ini juga menyoal kabar di media massa yang menyebut, telah terlahir banyak miliader setelah pembebasan tanah oleh Pertamina Rosneft. Padahal di desa ring satu lokasi kilang yang akan berdiri di atas lahan seluas 1.050 hektar, dengan 821 hektar diantaranya berupa lahan darat, itu tak semua lahannya terkena pembebasan.
Wadung yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, ditaksir ada 45 kepala keluarga (KK) yang lahannya lepas. Mereka terkena relokasi jika kilang dibangun. Dari jumlah itu sekitar tujuh KK yang menerima ganti rugi atas pelepasan tanahnya lebih dari Rp1 miliar.
Sisanya berkisar Rp500-600 juta karena berupa tanah permukiman dan rumah. Jika nilai itu dipakai beli tanah dan membangun rumah lagi bisa jadi telah habis. Lantaran harga tanah di sana sudah melambung akibat praktik spekulan, seiring dengan kepastian bakal dibangun kilang minyak dengan piranti tercanggih di jagad tersebut.Â
Bagai kucing garong menyambar kawanan tikus di ladang gersang, mereka bergerak cepat setelah corporate anyar itu meneken perjanjian dengan perusahaan kontruksi asal Spanyol, Spanish Tecnicas Reunidas SA, di Moskow akhir Oktober 2019. Kontraktor dari negeri Matador ini memenangkan tender Basic Engineering Design (BED) dan Front End Engineering Design (FEED) kilang Tuban. Prosesi itu oleh warga Tuban dipercaya sebagai penanda, bahwa pengolah crude oil berkapasitas 300.000 barel per hari tersebut, bakal segera memasuki proses groundbreaking di tanah kelahirannya.
Stigma miliader baru hasil pembebasan tanah di tengah pandemic Covid 19 di kampung kilang Tuban kian berkelindan tak berujung. Semakin membumi selepas diwartakan media cetak, eletronik, televisi, dan tentunya media sosial.
Di lain sisi program pemberdayaan berupa pelatihan ketrampilan, dan program sewarna lain yang dibesut Pertamina Rosneft tak kunjung muncul secara sustainable (berkelanjutan). Selain bantuan dana untuk tempat ibadah, ungkap Suwarno, Pertamina memang telah membantu kegiatan peringatan hari besar nasional di desanya.
“Kalau untuk program pemberdayaan masyarakat yang mencetak keahlian untuk warga hingga beralih profesi dari petani sampai sekarang belum ada,†ungkap tokoh masyarakat ini panjang lebar.
Pada gilirannya ketika ada informasi perusahaan, dengan komposisi kepemilikan saham  Pertamina 55 persen dan Rosneft 45 persen itu, membuka lowongan tenaga security—tidak melibatkan Pemdes dari enam desa terdekat, warga gerah lantaran merasa tak diprioritaskan dalam perekrutan Satpam melalui PT PTC. Sisi inilah yang acapkali melahirkan problema baru, disaat Pertamina Rosneft harus bergegas menuntaskan pembangunan kilang yang–ketika beroperasi—bakal menampung sekitar 2.500 tenaga kerja.
Padahal dalam komitmen awal, perusahaan akan melibatkan Pemdes terdekat dalam perekrutan tenaga kerja. Bentuknya pihak desa memberikan informasi dan membantu menyiapkan warga dalam proses rekrutmen. Karena merasa ditinggalkan akhirnya kawula muda desa beramai-ramai menggelar aksi unjuk rasa, pada pekan kedua bulan Januari lalu.Â
“Pada tahun 2020 terdapat beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat terkait peningkatan kapasitas warga masyarakat sekitar,†sergah Yuli Wahyu Witantra dari Corporate Affair PRPP, saat menjawab konfirmasi Suarabanyuurip.com secara terpisah melalui fasilitas media WhatsApp tertanggal 22 Februari 2022.
Sedangkan bentuk kegiatannya, antara lain, berupa pelatihan pengolahan ikan asap, pelatihan dalam pembentukan koperasi nelayan, dan pelatihan budidaya ikan Lele. Program-program tersebut dilaksanakan di enam desa dengan total peserta 75 orang.
Sayangnya pejabat Pertamina Rosneft yang dianggap paling sering berkomunikasi dengan masyarakat desa terdampak ini, tak merinci proses program pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukannya. Termasuk pula dari desa mana saja penikmat program yang mengikutinya. Â
“Jika tidak salah pada tahun 2019 pernah ada pelatihan memasak untuk ibu-ibu PKK,†timpal Sekretaris Desa Rawasan, Kecamatan Jenu, Kahono, saat ditemui di Balai Desa setempat.
Di sentra pemerintahan desa tak jauh dari lahan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seluas 364 hektar yang bakal dipakai proyek Kilang Tuban tersebut, Kahono mengungkapkan, pelatihan kuliner dari Pertamina itu diikuti oleh 10 perempuan desanya. Akan tetapi setelah pelatihan selesai tidak ada tindak lanjut, walau dia akuinya sebagai program yang bagus.
Serupa dengan desa lainnya, Rawasan juga menerima paket Sembako tahun 2020 senilai Rp200.000 per paket. Jumlah penerima bantuan beraroma pilantropi itu sekitar 200 orang dari total 2.932 penduduk yang menghuni desa seluas 4,1 Km2. Data penerima bantuan sekali dan belum ada bantuan sejenis lagi itu, diambilkan dari warga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementrian Sosial.
Sebagai perusahaan internasional harusnya, menurut tokoh masyarakat Desa Rawasan, Imron saat dikonfirmasi secara terpisah, mereka bisa lebih jernih memilih program untuk memberdayakan masyarakat desa terdampak. Jangan hanya berorientasi pada program yang bersifat sesaat, seperti bantuan Sembako atau bantuan sejenis carity lainnya. Â
“Harusnya ada pelatihan skill untuk pemuda, seperti keahlian tukang las, atau pemberian pelatihan ketrampilan lain yang bisa mendukung kegiatan kontruksi kilang,†papar Imron seraya menambahkan, “Dengan begitu ketika Pertamina Rosneft butuh tenaga kerja saat proyek konstruksi, tidak mengambil orang luar desa terdekat.â€
Menurut penilaian Imron, konstribusi bantuan dari perusahaan berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut masih minim untuk desanya. Sesuai pengamatannya pula, terhadap lima desa lain yang kelak bakal hidup berdampingan saat kilang, ketika pembangunannya dengan target serapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 27.85 persen, itu  produksi.Â
“Warga melalui Pemerintah Desa pernah mengajukan bantuan untuk rehab masjid, tapi sampai sekarang tidak jelas kabarnya,†pungkas Imron.
Ihwal keterlibatan tenaga kerja dari warga lokal, menurut Dirut Pertamina Rosneft, Kadek Ambara Jaya, telah dilakukan oleh perusahaan sebelum konstruksi pembangunan kilang dimulai. Komitmen perusahaan dalam memberdayakan tenaga kerja lokal di area Tuban, telah dilakukan sejak tahap pembersihan lahan (land clearing).
“Total, ada 1.220 pekerja lokal yang diberdayakan sejak tahapan land clearing I hingga IV. Tenaga lokal ini berasal dari desa-desa ring 1 di area GRR Tuban termasuk Wadung, Rawasan, Mentoso, Sumurgeneng dan Kaliuntu,†imbuh Kadek, begitu mantan Project Coordinator GRR Tuban tersebut akrab disapa, dalam rilis resmi di situs Pertamina.com 29 Januari 2022.
Sesuai temuan di lapangan, Desa Wadung juga menerima bantuan berupa Waring untuk nelayan. Pertamina juga mempekerjakan 300 orang enam dari enam desa terdekat, untuk proyek pengurukan tanah. (teguh budi utomo/bersambung)Â