SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Para petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengeluhkan sulitnya mendapat mesin combine saat musim panen raya kali ini. Hal itu menyebabkan para petani merugi karena padi rontok saat telat memanen.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Begadon 2 Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Suparno mengatakan musim panen raya para petani kesulitan untuk mendapatkan alat combine.
“Akhirnya para petani harus menunggu meski padi sudah siap panen,” katanya, Senin (14/3/2022).
Dia mengatakan, sulitnya mendapat alat combine ini juga berdampak berkurangnya hasil padi. Sebab, padi yang seharusnya dipanen tepat waktu harus menunggu combine dahulu. Akibatnya, padi yang sudah tua dan siap panen rontok.
“Tentu rugi, karena padinya rontok dulu sebelum dipanen,” katanya kepada suarabanyuurip.com.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan, tenaga perontokan padi secara manual sudah mulai ditinggalkan petani. Itu terjadi semenjak adanya alat panen modern yakni combine.
“Apalagi jumlah combine di Bojonegoro hanya sekitar 30 saja. Itu yang terdata di DKPP Bojonegoro. Ada yang dipinjamkan dan dihibahkan ke kelompok tani,” kata Zaenal.
Jumlah itu, tidak sebanding dengan areal lahan pertanian di Bojonegoro yakni seluas 83.000 hektare. Dia mengatakan, jumlah combine yang terbatas itu menyebabkan para petani kesulitan memanen karena menunggu alat perontokan padi modern itu.
Menurut dia, menggunakan combine memang lebih efektif karena menambah hasil panen padi. Berbeda dengan alat perontokan manual seperti kelompok panen atau dos kerontokan padi bisa 7 sampai 10 persen.
“Kalau menggunakan combine bisa lebih bersih dan kerontokannya hanya sekitar 2 persen,” katanya.
Namun, saat ini para petani kesulitan mendapatkan alat combine saat panen raya. Apalagi petani lebih mengandalkan combine dan meninggalkan kelompok panen manual.
Karena itu, dia melanjutkan, para petani jangan meninggalkan tradisi kelompok panen padi. Sebab, jumlah combine di Bojonegoro belum banyak.
“Dan jangan terlalu mengandalkan combine. Harapannya petani masih mempertahankan cara lama agar tepat waktu saat memanen padi,” katanya.(jk)