Pelaku Seni Ledek Terpaksa Ngamen Demi Sesuap Nasi

24897

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia tak hanya berdampak pada sisi kesehatan masyarakat saja. Tetapi juga mempengaruhi kondisi sosial masyarakat dan ekonomi secara umum. Termasuk pada para pelaku seni dan pelestari budaya.

Darmiyanti, salah satu waranggana pelaku  seni ledek atau tayub asal Jatirogo, Tuban, Jawa Timur, misalnya. Dia mengaku terpaksa harus mengamen demi sesuap nasi. Ekonomi menjadi alasan ia dan teman satu kelompoknya untuk berjalan dari desa ke desa menjajakan seni tradisonal asli Jawa itu.

“Ini kami lakukan demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Soalnya tanggapan sepi, sekaligus melestarikan tradisi,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com.

Bersama satu rekannya, Darmiyanti bertindak sebagai penyanyi sekaligus penari. Disertai para penabuh gamelan yang duduk lesehan mengiringi tembang-tembang jawa yang dibawakannya. Seperti yang dilakukannya saat sampai di Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.

“Kalau sampai di perempatan atau tempat strategis kami berhenti untuk mbarang (ngamen). Berharap dari penonton ada yang kasih imbalan jasa memainkan seni ini,” ujarnya.

Baca Juga :   Menjaga Tradisi, Desa Ringintunggal Gelar Ruwatan Murwa dan Sedekah Bumi

Pendapatan yang dia peroleh sudah pasti tidak menentu. Meski demikian berapapun hasilnya dibagi ke semua anggota kelompoknya. Mulai dari kisaran puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Tergantung dari pemberian masyarakat.

“Capek itu sudah pasti, Mas. Tapi gimana ya wong namanya kerja. Yang penting bisa pulang bawa uang buat kebutuhan keluarga,” ucapnya.

Demikian pula Kinasih, rekan waranggana di kelompok yang sama dengan Darmiyanti mengaku, tetap melakukan latihan seni tradisi, meski hanya untuk ngamen. Baginya sama saja, penonton harus terpikat melihat penampilan dalam menari. Yang membedakan cuma durasi pertunjukannya.

“Dandanan dan rias memang sederhana karena dana terbatas. Tapi seni yang kami tampilkan harus bagus, biar banyak yang tertarik menonton. Tapi waktunya pendek, tidak seperti pentas tanggapan yang bisa semalaman,” pungkasnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *