Surikarsih, Satu-satunya Perempuan di Bojonegoro Menjadi Pengawas Pertandingan Sepak Bola

IMG_20220813_195438

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang identik dengan kaum adam. Karena dipandang sebagai olahraga melelahkan dengan durasi yang lama. Sehingga dibutuhkan stamina yang kuat untuk memainkannya. Sehingga stigma keperkasaan lelaki yang akhirnya melekat pada olahraga ini.

Meski begitu, terdapat sedikit ruang bagi kaum hawa dalam dunia sepak bola. Surikarsih adalah salah satunya. Warga Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini merupakan perempuan yang menjadi “Match Commisioner” atau Pengawas Pertandingan (PP) satu-satunya di kabupaten kaya sumber minyak dan gas bumi (Migas).

Bagi Surikarsih, olahraga sepakbola sudah disukainya semenjak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Ibu dua anak ini mengaku, lebih banyak bergaul dengan teman sebaya laki-laki saat bermain. Oleh karena itu, tentu saja bermain bola menjadi permainan kesukaannya.

Kesukaannya pada sepak bola sejak kecil, tak pernah pudar meski kemudian ia berumah tangga. Istri Wahyu Agus Purnomo ini sebetulnya tak pernah dapat larangan dari suami ketika ingin beraktifitas di lapangan hijau. Hanya saja, ia sadar harus mendahulukan keluarga waktu itu.

Surikarsih, Satu-satunya Perempuan di Bojonegoro Menjadi Pengawas Pertandingan Sepak Bola Surikarsih foto bersama rekan pengawas pertandingan sepak bola lainnya dari Bojonegoro.

“Sehingga, saya ini telat menjadi PP Mas. Karena suami dan anak-anak saya prioritaskan lebih dulu. Sambil menata ekonomi. Dulu tahun 2012 anak saya masih kecil-kecil,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (13/08/2022).

Saat agak ada kelonggaran, mantan penyiar Radio Mega Mas FM Kalitidu ini sering didaulat menjadi wasit saat ada even tak resmi. Barulah pada tahun 2018, saat ada penyegaran PP dari Asprov PSSI Jatim di Malang, Surikarsih berhasil mendapat lisensi sebagai PP tingkat kabupaten.

Baca Juga :   Turnamen Muspika Palang Cup 2017 Resmi Dibuka

“Ada 300-an peserta waktu itu, yang gugur karena tidak menguasai IT seingat saya ada 89 orang. Penguasaan IT ini penting, karena sistem laporannya sekarang kan serba online. Maksimal 8 jam sejak pertandingan usai, laporan harus sudah masuk, dan ditutup,” ujarnya.

Perempuan asli Bojonegoro kelahiran 18 Nopember 1969 ini kemudian naik tingkat dari lisensi kabupaten menjadi berlisensi tingkat provinsi setahun berikutnya yang ia terima di Surabaya dari Asprov PSSI Jatim.

Masuknya Surikarsih dalam jajaran MatchComm di Bojonegoro menjadikan alumni SMA Muhammadiyah 2 Sumberejo ini sebagai satu-satunya perempuan diantara lima orang lainnya. Empat rekannya semua sudah berlisensi sebagai pengawas tingkat nasional.

“Tinggal saya seorang yang berlisensi tingkat provinsi. Karena, waktu ada penyegaran untuk tingkat nasional saya tidak lulus, terkendala usia,” ungkapnya.

Kegagalan meraih lisensi nasional, ia terima dengan lapang dada. Sebab, bagi perempuan yang pernah menjadi Sekretaris SSB Angling Dharmo masih banyak PP yang lebih baik dari dirinya. Semangatnya yang didasari suka sepak bola pun tak pernah surut.

Dari sekian banyak turnamen, saat ditugaskan di Piala Suratin tahun 2021 di Ngawi disebutnya sebagai yang paling berkesan. Karena berkumpul selama 10 hari dengan banyak perangkat pertandingan dibanding biasanya, antara lain, 11 wasit dan 2 pengawas pertandingan.

Baca Juga :   Menang Tipis 1-0 Lawan Taji Putra, Baroseq Melaju di Final Gayam Cup III 2023

“Jadi, saya bisa dapat banyak ilmu dari teman-teman selama 10 hari. Itu sangat berkesan buat saya. Beda dengan kalau selama dua tiga hari kan biasanya ya cuma bertugas saja,” ucapnya.

Disinggung perihal suka dukanya selama menjadi PP. Surikarsih mengaku banyak sukanya ketimbang dukanya. Bahkan, misalnya ada dukanya, ia tak ingat apa peristiwanya. Soal resiko terhadap hal yang tak diinginkan, dia katakan sebagai hal yang memang harus berani diambil.

Surikarsih, Satu-satunya Perempuan di Bojonegoro Menjadi Pengawas Pertandingan Sepak Bola Surikarsih saat bertugas menjadi pengawas pertandingan sepak bola.

Menyadari tugas yang diemban itu menanggung pertanggungjawaban yang berat, perempuan ramah ini menekankan kehati-hatian dan ketelitian dalam menjalankan tugas. Sebab semua hal harus dipastikan sesuai ketentuan.

Mulai dari persiapan lapangan, cek tinggi rumput dan segala macam yang ada di stadion, hingga memastikan nomor punggung dan jersey kedua lawan yang akan bertanding. Sampai-sampai, tak pernah lupa ia membawa meteran sendiri untuk pemeriksaan lapangan.

“Kuncinya, pelaksanaan pertandingan sepak bola itu kalau dijalankan sesuai dengan seluruh peraturan yang ada dan yang disepakati, pasti lancar dan aman,” imbuhnya.

Sebagai satu-satunya perempuan di Bojonegoro yang punya tanggung jawab besar terhadap terselenggaranya pertandingan sepak bola, Surikarsih berharap terjadi regenerasi. Apalagi dalam pandangannya sepak bola putri di kabupaten penghasil minyak ini mulai berkembang.

“Di Jatim cuma ada enam PP yang perempuan termasuk saya. Mudah-mudahan ada generasi baru yang muncul lagi selain saya di Bojonegoro,” pungkasnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *