Suarabanyuurip.com – Operator lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru, Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) bersama mitra pendamping, Ademos melaksanakan program pengurangan jejak emisi karbon di tiga sekolah di sekitar area operasinya.
Program pengembangan masyarakat (PPM) dibidang lingkungan ini telah disetujui oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Ketiga sekolah sekitar proyek gas JTB yang menjadi sasaran program pengurangan emisi karbon adalah SMPN 1 Ngambon, SMPN 2 Purwosari dan SMPN 1 Ngasem.
Pelaksanaan program pengurangan jejak emisi karbon diawali dengan lokakarya yang melibatkan Pertamina EP Cepu, kepala sekolah, guru, siswa dan Ademos, Kamis – Sabtu (20 -22/7/2023). Lokakarya bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya pengelolaan lingkungan dan aksi perubahan iklim dari emisi karbon.
“Program ini telah memasuki tahun kedua, tahun ini kita akan meneruskan apa yang menjadi komitmen di tahun sebelumnya, kita akan menghitung berapa besar emisi karbon yang kita hasilkan untuk selanjutnya kita akan mencoba melakukan gerakan imbal jasa kepada alam terhadap emisi karbon tersebut,” Ujar Edi Arto selaku PIC Program Pengurangan Jejak Emisi Karbon dari Pertamina EP Cepu Zona 12.
Pada tahun pertama pelaksanaan program ini telah mensosialisasikan dan membuat kesepakatan strategis mengenai pengurangan emisi karbon. Untuk tindak lanjut pada tahun berikutnya adalah mengajak sekolah mengetahui baseline data emisi karbon yang dihasilkan siswa dan sekolah dengan cara menghitung berdasarkan indikator penghasil emisi karbon kemudian akan melakukan gerakan imbal jasa pada rangkaian kegiatan tahap berikutnya.
Penghitungan emisi karbon yang dilakukan oleh para siswa menggunakan aplikasi jejakkarbonku.id yang didalamnya mencakup beberapa indikator penghitungan seperti penggunaan alat transportasi, konsumsi makanan dan listrik.
“Kita perlu tahu berapa emisi karbon yang kita hasilkan, ini nantinya akan kita gunakan sebagai baseline sehingga kita punya data before-after jejak emisi karbon yang teman-teman hasilkan” Ujar Zaenal Arifin, Manajer Program Ademos.
Dalam lokakarya itu, seluruh peserta bersepakat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, apalagi mengenalkan kepada generasi-generasi muda sekolah di tingkat menengah pertama. Karena isu emisi karbon tidak lagi menjadi isu lokal tetapi juga isu dunia, dan sudah disepakati dalam perjanjian bersama.
“Kita yang hidup saat ini adalah meminjam alam dan lingkungan dari generasi yang akan datang. Untuk itu melestarikan dan menjaga alam adalah tanggung jawab kita bersama agar kelak kita tidak mewariskan kerusakan alam bagi generasi yang akan datang,” kata Wiwik Yuliarsih, Kepala SMPN 2 Purwosari.
Sekretaris Ademos, A Shodiqurrosyad menambahkan, program pengurangan jejak emisi karbon yang diinisiasi Pertamina EP Cepu ini bisa menjadi projek penguatan profil pelajar pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka.
“Guru dan siswa kita ajak menghitung emisi karbon yang dihasilkan, lalu merencanakan upaya pengurangan dan penebusan jejak emisi dengan pelestarian lingkungan hidup di sekolah, membuat dan melakukan pemeliharaan hutan sekolah (school forest), mengelola sampah sekolah,” ujarnya.
“Kurikulumnya kita rumuskan sama-sama karena sesuai dengan salah satu tema P5 kurikulum merdeka, gaya hidup berkelanjutan,” imbuhnya.(red)





