SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Pendapatan Bojonegoro, Jawa Timur dalam Rancangan APBD tahun 2024 turun sebesar Rp 722 miliar. Turunnya target pendapatan tersebut dipengaruhi harga minyak yang melemah.
“Sehingga transfer dana bagi hasil atau DBH migas juga ikut turun,” kata Pj Bupati Bojonegoro Adriyanto.
Dia mengatakan, proyeksi transfer pusat turun, terutama yang bersumber dari DBH migas. Sebab, harga minyak diprediksi akan melemah.
“Untuk transfer DBH migas pada tahun depan diperkirakan Rp 1,8 triliun,” katanya, Kamis (9/11/2023).
Berdasarkan data Kementerian ESDM, rata-rata harga minyak mentah Indonesia pada bulan Oktober 2023 dibandingkan bulan September 2023 mengalami penurunan sebesar US$3,45 per barel dari dari US$90,17 per barel menjadi US$86,72 per barel.
Faktor yang mempengaruhi penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional antara lain kekhawatiran pasar akan tertekannya pertumbuhan ekonomi global, dan penurunan permintaan minyak, bila tingkat suku bunga tetap pada level yang tinggi.
Selain itu juga akibat adanya aksi profit taking pelaku pasar sebagai antisipasi hasil dari pertemuan Federal Reserve AS dan data Purchasing Manager ‘s Index dari China.
Sementara itu, Ketua Fraksi Golkar DPRD Bojonegoro Sigit Kushariyanto mengatakan, estimasi pendapatan pada RAPBD 2024 sebesar Rp 4,5 triliun. RAPBD itu bersumber dari pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 950 miliar, pendapatan transfer Rp 3,4 triliun, dan pendapatan lain-lain yang sah sebesar Rp 75,4 miliar.
“Target pendapatan itu dibandingkan dengan RAPBD 2023 turun sebesar Rp 722 miliar atau 15,99 persen. RAPBD 2023 sebesar Rp 7,4 triliun,” katanya.
Dia mengatakan, setelah mencermati nota keuangan yang disampaikan PJ Bupati Bojonegoro terdapat penurunan yang cukup signifikan yakni dari pendapatan transfer.
“Sehingga harus diperjelas faktor penyebab turunnya pendapatan transfer yang bisa dibilang cukup signifikan ini,” katanya.(jk)



