Menyejahterakan Peternak di Sentra Penghasil Ternak

Direktur UD Munir Jaya, Munir, sedang memaparkan program sosial kemasyarakatan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak di hadapan Komisi B DPRD Jatim. (suaraBanyuurip.com/ist)

“Berternak itu bukan soal untung dan rugi, namun lebih pada soal berkah atau tidak berkah.”

Demikian kata Munir, peternak sapi asal Tuban, saat menerima kunjungan Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur akhir pekan pertama di bulan Mei 2024. Baginya profesi apapun bisa digeluti oleh siapapun, akan tetapi di setiap pekerjaan selalu ada keberkahan. Disitulah nilai-nilai ketulusan, keihlasan, semangat kerja, dan mendekat dengan Tuhan menjadi pengantar datangnya berkah.

Berkah dari pekerjaan, ungkap pria muda asal Desa Kowang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban ini, tak hanya bagi diri sendiri namun juga untuk lingkungan. Bila berkah dari dunia peternakan dirasakan warga sekitar, tentunya bakal berimbas pada kesejahteraan lingkungan.

Oleh karena itu lelaki yang mudah akrab dengan siapapun ini, sangat mafhum terhadap kondisi peternak. Terlebih karena profesi orangtuanya juga petani dan ternak. Ia akui pula perjalanan hidupnya pun tak lepas dari hasil ternak sapi.

“Saya dibiayai sekolah sampai dibelikan sepeda motor oleh orang tua juga dari hasil jualan sapi. Makanya ternak tak bisa lepas dari diri saya,” ungkap lelaki sederhana itu panjang lebar disela menerima kunjungan Wakil Rakyat yang bermarkas di kawasan Indrapura, Surabaya tersebut.

Munir tak lupa bagaimana orangtuanya mengajari bagaimana memelihara hewan ternak. Bagaimana cara ngarit (menyabit) agar mendapatkan rumput yang baik, dan bagaimana mengembala sapi, menjaganya agar sehat, dan berharga mahal ketika dijual.

Ia juga memahami jika sektor yang akrab dengan kambing, domba, dan sapi itu tak mudah. Banyak penyakit maupun problem lain yang menyertainya. Mulai dari masalah pakan, belakangan rantai pasok bahannya, tak mudah karena berbagai masalah yang menyertainya. Satu missal, perang Rusia vs Ukraina yang membikin seret impor bahan pakan ternak, hingga kecenderungan pabrikan gula mengekspor limbah tetes, hingga bungkil sawit ketimbang dijual kepada pabrik pakan ternak lokal.

“Persoalan bahan pembuatan pakan ternak sampai saat ini seringkali menjadi kendala, padahal itu sangat vital bagi dunia peternakan,” kata bapak dua putra yang menjabat Direktur UD Munir Jaya produsen pakan ternak bermerk Bima Feed itu.

“Memang masih kesulitan bahan baku pakan, karena diantaranya masih impor, dirasakan pabrikan dan peternak,” ujar Kabid Perbibitan, Pakan dan Produksi Peternakan dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Ahmad Riza Muzammil, secara terpisah.

Baca Juga :   Atasi Kelangkaan LPG, Sekda Nurul Azizah Ajukan Tambahan Kuota
Rombongan Komisi B DPRD Jatim bersama Dinas Peternakan Pemprov Jatim saat datang di UD Munir Jaya, Tuban. Rombongan dari Surabaya ini juga menggali data tentang berbagai kendala yang dialami peternak dan mencarikan solusinya. (SuaraBanyuurip.com/ist)

Riza, demikian pejabat ramah itu akrab disapa, kala itu mendampingi Monitoring Komisi B DPRD Jawa Timur di Tuban menambahkan, berbagai terobosan telah dilakukan agar ketersediaan bahan pakan terpenuhi. Apalagi provinsi yang terdiri dari 38 kabupaten dan kota, termasuk penghasil sapi terbesar di tanah air.

Data statistik menyebut, populasi sapi di Jawa Timur tahun 2022 sebesar 5.070.240 ekor. Pada periode sama produksi daging sapi menembus 110.991,18 ton, tahun 2023 turun menjadi 102.711,7 ton. Sedangkan produksi daging nasional tahun 2022 dan 2023, sebanyak 498.923,14 ton dan 503.506,8 ton. Sementara Tuban sebagai produsen sapi terbesar kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Sumenep, pada tahun 2021 populasi sapi mencapai 354.650 ekor, dan tahun 2022 tercatat 360.473 ekor.

Pada prinsipnya, kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Amar Saifudin, kedatangannya  bersama 5 orang anggota Komisi untuk melihat kondisi UD Munir Jaya dan peternak pada umumnya di Tuban. Termasuk mencari informasi apa saja kesulitannya, agar bisa membantu mencarikan solusi terhadap permasalahan yang menimpa peternak.

“Kita berupaya agar Jatim tetap menjadi produsen terbesar di Indonesia untuk bidang peternakan,” kata Amar Saifudin.

 

Jalan Panjang Konsultan Pendamping Tak Berbayar

“Peternak masih butuh edukasi dan pendampingan baik itu dari teknologi berternak hingga jaringan market regional dan global, terkait hal ini butuh keterlibatan banyak pihak,” kata Direktur UD Munir Jaya, Munir, di Tuban. (SuaraBanyuurip.com/ist)

Sebagai peternak dan produsen pakan, Munir sangat merasakan naik turunnya populasi sapi di Bumi Ranggalawe. Peternak butuh pendamping yang bisa membawa mereka ke ranah regional, dan global. Ia bersama jajaran tenaga professional UD Munir Jaya membuka diri sebagai pendamping peternak tak berbiaya.

“Apapun permasalahan ternak, bisa dikonsultasikan kepada kami agar bisa dicarikan jalan keluar,” kata Munir. “Kita membangun jaringan sesama peternak, agar bisa saling membantu sekaligus makin memperkaya pengetahuan berternak.”

Calon Anggota DPRD Tuban dari Partai Golkar yang terpilih dalam Pemilu Legislatif 2024 dengan misi, “Mengembangkan dan pemberdayaan seKtor pertanian dan peternakan sehingga tumbuh, tangguh, serta memiliki daya saing tinggi yang berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Tuban” itu, menilai edukasi bidang peternakan sangat dibutuhkan peternak. Oleh karena itu  perlu peningkatan kapasitas intelektual, dan produktifitas bagi petani dan peternak, agar mendapatkan hasil yang bermutu dan memiliki daya saing tinggi.

Baca Juga :   Raih Juara 1 Jatim, BUMDesa Bandung Bondowoso Jadi Jujugan Studi Tiru

“Kami akan berupaya memberikan akses pendidikan, dan pelatihan teknologi modern dengan tujuan meningkatkan kapasitas intelektual sesuai kebutuhan mereka,” papar Munir yang berharap kepada pimpinan partainya bisa ditempatkan di Komisi Dewan yang membidangi sektor pertanian dan peternakan.

Selain itu, suami Ny Ika Yuliani menyatakan,  pihaknya akan berupaya memfasilitasi petani dan peternak untuk meningkatkan hasil produksi yang optimal. Teknisnya dengan mengedepankan kualitas dan kuantitas yang berdampak langsung pada kesejahteraan keluarganya. Apalagi jika didukung dengan pengembangan infrastruktur pertanian dan peternakan, untuk meningkatkan usaha agrobisnis yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Petani dan peternak juga butuh didorong agar meningkatkan penggunaan teknologi modern untuk memberdayakan dirinya. Contohnya, dengan penerapan teknologi otomatisasi, sensor, dan kecerdasar buatan untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas.

“Kita akan bangunkan jaringan strategis kemitraan usaha yang saling menguntungkan bagi petani dan peternak dengan pelaku usaha agrobisnis, arahnya dengan membuka akses jaringan pasar lebih luas untuk produk pertanian dan peternakan,” ungkap Munir sembari membuang asap rokok dari bibirnya yang hitam.

Kepercayaan yang diberikan petani dan peternak jaringannya, akan dipergunakan memainkan peran secara aktif dalam mewujudkan swasembada pangan melalui tata kelola sektor pertanian dan peternakan. Arah tujuannya adalah untuk mendukung program pemerintah daerah dalam pemenuhan kebutuhan pangan, dengan target mewujudkan agenda ketahanan pangan.

Munir sangat memahami, problema yang dihadapi peternak masih akan datang dengan beragam penyebabnya. Termasuk juga harapan mereka bisa sejahtera dari profesinya, butuh aksi lapangan yang tak kenal putus asa. Pun dukungan dari berabagai stakeholder masyarakat, terlebih pelaku usaha peternakan termasuk jejaring bisnis bidang peternakan.

“Harus diakui peran pendamping baik dari pemerintah maupun elemen masyarakat lain, masih dibutuhkan agar kemandirian dan kesejahteraan petani dan peternak tercapai,” demikian pungkas Munir. (tbu)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *