Bojonegoro Merindukan Pemimpin

Agus Sighro Budiono.
Agus Sighro Budiono.

oleh: Agus Sighro Budiono

Kepemimpinan adalah amanah. Setiap pemimpin – yang memikul amanah – akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Sang Khalik di akhirat kelak. Rasulullah Saw bersabda, ”Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Dan pemerintah adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya.

Mengingat besarnya tanggung jawab seorang pemimpin, Umar bin Khatab ra. (seorang pemimpin yang adil) berkata, ”Seandainya seekor kuda terperosok di jalan wilayahku, maka aku menganggap dirikulah yang harus bertanggung jawab atasnya di hadapan Allah; mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya?” Beliau menggambarkan besarnya tanggung jawab dengan sebuah ungkapan, ”Saya senang jika dapat keluar dari dunia ini dengan impas; tidak mendapat pahala dan tidak mendapat dosa.”

Berdasarkan hal itu, kepemimpinan lebih ditempatkan dalam konteks tanggung jawab ketimbang sekedar penghormatan. Dengan demikian seorang pemimpin dituntut agar dapat menunaikan tugas dan perannya seoptimal mungkin.

Menjadi seorang pemimpin, apalagi memimpin sebuah kabupaten seperti Bojonegoro yang saat ini menjadi perhatian nasional karena sumber daya alamnya, bukanlah perkara mudah. Semakin kompleks manusia serta wilayah kepemimpinannya maka semakin berat syarat yang dibutuhkan untuk bisa memikul tanggung jawab kepemimpinan tersebut.

Syarat menjadi ketua RT tentulah lebih simpel dan ringan dibandingkan syarat untuk menjadi lurah, begitu seterusnya untuk level kepemimpinan yang lebih tinggi, seperti camat, walikota/bupati hingga presiden.

Dalam konteks Bojonegoro yang merupakan kabupaten dengan APBD terbesar nomor dua se Jawa Timur, yang ironisnya berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan termasuk kategori wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi nomor sebelas di Jatim, tentunya mensyaratkan seorang pemimpin yang berkarakter dan berintegritas.

Baca Juga :   Sengketa, Bawaslu Bojonegoro Undang Bapaslon Nu-Sa dan KPU dalam Musyawarah Tertutup

Adalah Nurul Azizah, seorang perempuan yang saat ini menjadi sekretaris daerah Kabupaten Bojonegoro mendapat amanah begitu besar dari rakyat Bojonegoro untuk maju dalam pemilihan kepala daerah melalui jalur independen demi menghindari adanya calon tunggal sebagai imbas dari politik pragmatisme yang ditengarai bakal terjadi di Kabupaten dengan jumlah pemilih sebanyak 1.033.836 pemilih ini.

Tengara itu muncul dari ambisi mantan bupati yang bernafsu untuk berkuasa lagi. Meskipun sudah mengantongi 13 kursi DPRD atau lebih dari 20 persen jumlah kursi DPRD sebagai syarat maju sebagai calon bupati, calon incumbent yang juga ketua parpol pemenang pemilu di Bojonegoro ini, tak sungkan berburu rekomendasi dengan mendaftar di hampir semua partai yang membuka pendaftaran bagi calon bupati/wakil bupati.

Melihat gelagat akan terjadinya demokrasi yang tidak sehat ini, muncullah inisiatif dari beberapa tokoh di Bojonegoro untuk menjadi relawan dan menghimpun dukungan dari rakyat untuk mendaftarkan Nurul Azizah sebagai calon bupati dari jalur independen. Tak pelak dari upaya keras dan semangat menghadang lahirnya penguasa otoriter, dalam waktu tidak lebih dari dua hari terkumpulah ratusan ribu surat pernyataan dukungan dilampiri KTP untuk Nurul Azizah yang dipasangkan dengan KH. Nafik Sahal salah seorang pengasuh pondok pesantren di Bojonegoro, yang juga mantan Wakil Ketua Dewan Syuro DPC PKB Bojonegoro.

Baca Juga :   Blok Rokan Tambah Potensi Cadangan Minyak 31,5 Juta Barel

Berdasarkan Pasal 41 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, syarat dukungan untuk daftar menjadi calon independen adalah 6,5 persen dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) atau minimal mendapat 67.200 dukungan. Dengan ratusan ribu surat pernyataan dukungan yang dihimpun oleh para relawan Nurul Azizah tentu sudah lebih dari cukup untuk mendaftar sebagai calon perseorangan/independen.

Munculnya fenomena gelombang dukungan ini tentu bukan serta merta, tapi dipicu adanya kekecewaan atau ketidakpuasan dari pemimpin sebelumnya. Terlebih pemimpin sebelumnya yang berasal dari luar kabupaten Bojonegoro terkesan abai terhadap rakyat Bojonegoro, melahirkan semangat primordial yang memunculkan kata “ASLI” dan menjadi magnet mengalirnya dukungan untuk Nurul Azizah. “Yang Asli Tentu Lebih Baik” demikian tagline yang terus diviralkan oleh para relawan Nurul Azizah.

Untuk itu maka, pada Minggu, 12 Mei 2024, tepatnya pukul 23.57 WIB, para relawan mendatangi kantor KPUD Bojonegoro dengan membawa beberapa kotak kontainer berisi surat pernyataan dukungan untuk mendaftarkan Nurul Azizah sebagai Bakal Calon Bupati dan KH. Nafik Sahal sebagai Bakal Calon Wakil Bupati Bojonegoro periode 2024-2029.

Apakah kerinduan rakyat Bojonegoro untuk melahirkan pemimpin yang amanah dapat terwujud? Wallahu alam bisshawab. Yang pasti rakyat sudah berikhtiar, selanjutnya kepasrahan kepada Allah sang penentu segalanya.

Penulis adalah mantan wartawan yang kini menkhusuki gerakan pelestarian kebudayaan di Bojonegoro.

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar