SuaraBanyuurip.com – Keberadaan semut di kawasan penambangan minyak tradisional Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memiliki manfaat menyeimbangkan ekosistem. Serangga sosial yang termasuk dalam ordo Hymenoptera dan famili Formicidae ini dapat meremidiasi cemaran logam berat di kawasan tersebut.
Temuan itu berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro). Penelitian dilakukan selama lima tahun di kawasan penambangan minyak tradisional Wonocolo.
Ketua LPPM Unigoro Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc. mengungkapkan, keberadaan semut-semut di kawasan tambang minyak tradisional Wonocolo berfungsi untuk menyerap logam berat. Temuan ini berdasarkan hasil Penelitian Fundamental Reguler (PFR) berjudul Potensi Bioakumulator Logam Berat pada Semut Famili Formicidae di Kawasan Tambang Minyak Tradisional Wonocolo sebagai Remediator Alami. Riset tersebut didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) melalui Pendanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2024.
Laily menuturkan, semut menjadi makrofauna tanah yang mendominasi di Wonocolo. Sudah menjadi rahasia umum jika lahan daerah tersebut telah tercemar akibat aktivitas penambangan minyak tradisional. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan, tanah di kawasan Wonocolo mengandung material logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium.
“Populasi semutnya melimpah, tapi tanahnya mengandung banyak logam berat. Apakah ada kaitannya? Ternyata ada. Semut dapat mengakumulasi atau menyerap logam berat di dalam tubuh dan sarangnya,” tuturnya, Kamis (3/10/24).

Riset semut di tambang minyak tradisional Wonocolo berlangsung mulai Juni hingga September. Laily menggunakan sampel 13 jenis semut sekaligus sarangnya. Salah satu uji yang dilakukannya adalah uji XRF (X-ray Fluorescence) untuk mendeteksi apa saja komponen yang terdapat dalam tubuh semut.
“Saya mendeteksi ada sepuluh jenis logam berat di tubuh semut serta 13 jenis logam berat di sarangnya,” ujarLaily.
Jenis logam berat yang ada di tubuh semut antara lain Al, Ba, Cu, Fe, Mn, Ni, Re, Ti, Zn, dan Zr. Sedangkan jenis logam berat di sarangnya yakni Al, Ba, Cu, Cr, Fe, Mn, Ni, Re, Ti, Zn, Zr, Sr, dan V.
Menurut Laily, spesies semut yang mengakumulasi sembilan jenis logam berat di tubuhnya dari genus Monomorium. Sedangkan sarang semut yang mengakumulasi hingga 13 jenis logam berat adalah sarang semut dari genus Solenopsis. Bahkan kandungan besi di sarang semut Solenopsis mencapai 33 persen.
“Ini menjadi bukti semut sangat bermanfaat di Wonocolo karena membantu tanah untuk mengurangi kandungan logam berat. Buktinya semut-semut di sana masih tetap hidup walaupun dalam tubuhnya banyak logam berat. Karena semut memiliki karakteristik yang sama seperti eceng gondok, menjadi bioakumulator,” terang Dosen ilmu lingkungan Unigoro ini.
Lima tahun meneliti kawasan tambang minyak tradisional Wonocolo, Laily berharap warga tidak mengganggu habitat semut di Wonocolo. Keberadaan semut dapat menyeimbangkan ekosistem.
“Selain itu, riset semut di Wonocolo sifatnya baru penelitian dasar. Selanjutnya akan menjadi penelitian terapan. Saya akan coba mengaplikasikan jenis semut yang potensial itu apakah benar dapat meremidiasi cemaran logam berat di kawasan lain,” tandas doktor ilmu lingkungan ini.(red)