SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung Mayor Sogo Unigoro, Kamis (19/12/24). Kuliah praktisi kali ini mengusung tema pemasaran produk sarana produksi pertanian Eko Hadi Susanto PT Agricon Sentra Agribisnis Indonesia sebagai praktisi.
Dosen Agribisnis Unigoro, Masahid mengatakan, kuliah praktisi ini merupakan program wajib untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Khususnya untuk penerapan ilmu di dunia kerja.
“Karena ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan praktik akan sia-sia. Sedangkan praktik tanpa disertai ilmu pengetahuan akan berisiko gagal,” kata Alumni Fakultas Pertanian Unigoro itu.
Anggota PT Agricon Sentra Agribisnis Indonesia Eko Hadi Susanto mengatakan, strategi pemasaran untuk memasarkan produk pertanian sangat penting. Sebelum terjun sebagai agronomis, mahasiswa harus memiliki softskill yang mumpuni untuk berinteraksi dengan petani.
“Public speaking juga sangat penting sebagai salah satu cara memasarkan produk pertanian. Di lapangan kita akan bertemu para petani dan cara memasarkan produk ada triknya tersendiri,” katanya.
Dia mengatakan, ada beberapa strategi utama untuk meningkatkan penjualan produk pertanian. Diantaranya, meningkatkan pemahaman pasar, mempelajari jalur distribusi barang, pengoptimalan, serta pemanfaatan program.
“Pemahaman pasar itu dimulai dari mengetahui potensi komoditas pertanian, peta tanam, dan jadwal tanam di suatu wilayah itu kapan. Lalu menelusuri jalur distribusi produk dan sebaran produk dari kompetitor ke mana saja. Selanjutnya menguatkan jaringan pemasaran, tim, dan para petani binaan,” paparnya.
Pria asli Jember ini juga membeberkan strategi jalur distribusi produk kepada mahasiswa agribisnis Unigoro. Diantaranya memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi serta mengembangkan potensi serapan di retailer yang sudah ada. Menurut Eko, promosi produk pertanian harus bersifat sustainable, efektif, dan terukur berdasarkan potensi wilayah maupun peta tanam.
“Disesuaikan dengan kultur daerah setempat. Misalnya sebelum musim tanam, kami pernah membuat event balap traktor di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Ini jadi kesempatan untuk memunculkan brand image produk,” jelas Eko.(jk)





