SuaraBanyuurip.com – Ratusan mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) yang akan melakukan kuliah kerja nyata (KKN) tematik kolaboratif (TK) mendapat pembekalan tentang strategi analisis potensi desa dan mitigasi kekeringan di Kabupaten Bojonegoro.
Pembekalan dilaksanakan secara beruntun oleh Lembaga dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unigoro. Menghadirkan akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unigoro, M. Miftahul Huda dan ahli klimatologi, Heri Mulyanti.
Menurut dosen yang akrab disapa Miftah, identifikasi potensi desa dapat dilakukan menggunakan analisis situasi. Agar dapat dipetakan secara detail masalah serta potensi di desa tersebut secara partisipatif. Sedangkan untuk menyusun rencana strategi pengembangan potensi desa bisa menggunakan metode analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, dan Threats).
Miftah menjelaskan, setelah mahasiswa memetakan analisis SWOT dilanjutkan membuat tabel matriks dan ditentukan sebagai tabel informas.kemudian dilakukan pembandingan antara faktor internal yang meliputi Strength dan Weakness, dengan faktor luar Opportunity dan Threats.
“Setelah itu kita bisa melakukan strategi alternatif untuk dilaksanakan. Strategi yang dipilih merupakan strategi yang paling menguntungkan dengan resiko dan ancaman yang paling kecil,” paparnya.
KKN TK Unigoro 2026 akan dilaksanakan di 11 kecamatan dekat kawasan hutan. Meliputi Kedungadem, Sugihwaras, Temayang, Gondang, Bubulan, Ngasem, Sekar, Ngraho, Tambakrejo, Margomulyo dan Bojonegoro. Titik lokasi tersebut acapkali terdampak bencana kekeringan serta mendapatkan atensi khusus dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro.
Sementara itu, Heri Mulyant menerangkan, masyarakat perlu melakukan persiapan untuk menghadapi bencana kekeringan guna mencegah dampak yang lebih besar. Desa atau kecamatan yang terdampak biasanya akan diupayakan dengan dropping air bersih.
“Pilihannya adalah mau adaptasi atau mitigasi? Kalau adaptasi aartinya masyarakat harus berhemat air bersih. Sedangkan mitigasi adalah mencari langkah-langkah untuk mendapatkan lebih banyak air, menyimpan lebih banyak,” terangnya.
Mitigasi jangka panjang dapat berupa menyesuaikan dengan sistem alam serta membangun infrastruktur pendukung. Sedangkan mitigasi jangka pendek berupa memproduksi tempat penampungan air.
“Untuk mengurangi risiko kekeringan sejak awal langkah mitigasinya bisa dimulai dari membuat penampungan air, mencari sumber air baru, rencana distribusi air dalam keadaan darurat, konservasi mata air dan menjaga hutan, serta menabung,” papar dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro.
Heri menekankan pada kondisi infrastruktur kurang, dana kurang, serta tidak ada penyimpan air maka harus mendahulukan adaptasi. Sebab proses mitigasi membutuhkan teknologi dan dana.(red)





