Saksikan, Pertunjukan Perpaduan Sandur dan Thengul Bojonegoro di Pentas Niti Lakune Simathani

Sandur Bojonegoro.
Ramon Pareno, pemaju budaya sekaligus pendiri Akademi Bale Parawangsa bersama seniman Bojonegoro saat mematangkan persiapan pentas Niti Lakune Simathani.

SuaraBanyuurip.com – Inovasi budaya kembali hadir dari Bojonegoro, Jawa Timur. Tahun ini, para seniman lokal mengenalkan bentuk pengembangan baru dari dua kesenian tradisional yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda nasional yakni Wayang Thengul dan Sandur Bojonegoro.

Uniknya, dua kesenian ini dipadukan menjadi satu pertunjukan utuh. Seni Sandur yang dimainkan secara pakeliran, disisipi tokoh dan adegan menggunakan media Wayang Thengul.

“Karakter anak wayang dalam Sandur tetap ada, tapi kini diperkaya dengan tokoh dan adegan baru lewat Thengul,” jelas Ramon Pareno, pemaju budaya sekaligus pendiri Akademi Bale Parawangsa.

Tak hanya itu, pertunjukan juga diramaikan oleh seni budaya lain seperti kidung macapat dan selawatan. Semuanya bersatu dalam pementasan berjudul Niti Lakune Simathani yang mengangkat kisah tentang Arya Surung, seorang ksatria dari Surung yang hidup di masa peralihan Majapahit ke Demak.

Cerita ini diangkat dari Prasasti Pamintihan, naskah kuno yang bukan hanya bernilai sejarah tinggi, tapi juga menjadi acuan penetapan Hari Jadi Desa Mlinjeng.

Pertunjukan tersebut akan digelar Selasa (13/5/2025) malam, di Balai Desa Mlinjeng, Kecamatan Sumberrejo, dalam rangka perayaan Hari Jadi ke-552 Desa Mlinjeng.

“Hari jadi desa kami memang merujuk pada tanggal dikeluarkannya prasasti itu, yakni 14 Mei 1473,” kata Sugiri, Kepala Desa Mlinjeng.

Sebagai informasi, pengakuan Wayang Thengul dan Sandur sebagai Warisan Budaya Tak Benda nasional membawa tanggung jawab besar. Pemerintah daerah, komunitas seni, dan masyarakat luas diharapkan aktif melestarikan, melindungi, dan mengembangkan kekayaan budaya ini agar tetap hidup di tengah masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan amanat UU Pemajuan Kebudayaan yang mendorong pelestarian nilai budaya lokal sebagai identitas bangsa.

Dengan pengembangan kreatif ini, seniman Bojonegoro menunjukkan bahwa tradisi bisa terus hidup dan relevan dengan zaman, tanpa kehilangan akarnya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait