SuaraBanyuurip.com – Program studi (Prodi) manajemen ritel Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung Mayor Sogo, Selasa (3/6/25). Kuliah praktisi kali ini membahas partisipasi bisnis UMKM berkelanjutan dengan menghadirkan Tri Astutik, owner Batik Sekar Rinambat sebagai praktisi.
Batik Sekar Rinambat berasal dari Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro. Rumah batik merupakan binaan operator lapangan gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (J-T), Pertamina EP Cepu dengan pendampingan dari lembaga non pemerintah, Ademos Indonesia.
Di hadapan mahasiswa, Astutik mengulas perjalanannya menekuni industri batik sejak 2016. Berawal dari mengisi kekosongan waktu sebagai ibu rumah tangga, wanita berusia 39 tahun ini mengikuti pelatihan membatik.
Astutik mengaku saat itu mendapatkan 15 potong kain, wajan, cap, dan malam sebagai modal awal untuk menggeluti usaha batik.
“Modalnya memang nol rupiah. Dari 15 potong kain batik, berhasil terjual dua potong seharga Rp 300 Ribu. Hasil penjualan itu tadi diputar lagi sebagai modal. Hingga saat ini pun saya tidak pernah mengeluarkan modal pribadi,” kenangnya.
Di tengah banyaknya pelaku usaha batik, Astutik dengan brand Sekar Rinambat mencoba untuk tetap eksis. Batik-batik yang diproduksinya menggunakan kain berbahan serat alam, pewarna alami ramah lingkungan, serta metode eco print.
Selain itu, Batik Sekar Rinambat juga menyelenggarakan workshop membatik bagi siswa-siswi lembaga sekolah sebagai bentuk edukasi budaya atau edutourism.
“Kami memiliki branding yang kuat melalui cerita budaya. Karena mindset kewirausahaan dalam industri batik bertumpu pada kreatifitas, adaptif, dan berorientasi pada nilai budaya,” terang Astutik.
Kuliah praktisi untuk mata kuliah kewirausahaan, berlangsung interaktif. Mahasiswa prodi manajemen ritel Unigoro memanfaatkan momen diskusi dengan praktisi untuk menjawab rasa penasarannya tentang UMKM batik. Selain itu, mahasiswa juga diajak praktik membatik bersama dan dipandu langsung oleh Astutik.(red)





