Isi Kuliah Umum di Unigoro, Pakar Molekuler Ekologi Unair Ungkap Susutnya Kawasan Mangrov Indonesia

Kuliah umum unigoro.
Pakar Molekuler Ekologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Sapto Andriyono.

SuaraBanyuurip.com – Pakar Molekuler Ekologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Sapto Andriyono mengatakan, Indonesia memiliki kawasan mangrove terluas dibanding negara-negara lain. Tercatat ada 53 spesies mangrov. Namun, luasan tersebut sekarang ini terus berkurang karena terjadinya konversi lahan pesisir.

“Penyebab utamanya adalah konversi lahan pesisir menjadi tambak, kawasan industri, dan pemukiman. Fenomena yang terjadi saat ini, banyak kawasan industri dan perumahan yang tepat berada di tepi laut,” ungkap Sapto saat mengisi kuliah umum program studi (Prodi) Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro) membahas pengelolaan mangrove sebagai investasi berkelanjutan lingkungan di Hall Suyitno, Senin (21/7/25).

Wakil Dekan III Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair ini menjelaskan, mangrove memiliki berbagai fungsi ekologi. Sebagai penahan abrasi dan badai, penyerap karbon, tempat berlindung biota laut, sekaligus menjadi penyaring limbah alami.

Selain itu, mangrove juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sapto mencontohkan, di beberapa kota kawasan mangrove menjadi ekowisata berbasis komunitas. Serta menjadi nilai budaya kearifan lokal.

“Seperti di Ujungpangkah, Gresik, ada festival mangrove yang diadakan setiap tahun,” paparnya.

Selain konversi lahan ada banyak hal yang mengancam keberlangsungan mangrove. Seperti penebangan liar, pencemaran lingkungan, dan dampak perubahan iklim. Pemerintah, lanjut Sapto, sebenarnya telah mengeluarkan beberapa regulasi untuk pengelolaan mangrove di Indonesia. UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Ada beberapa strategi pengelolaan mangrove berkelanjutan yang bisa diadaptasi oleh masyarakat.

“Kita bisa merestorasi dan merehabilitasi kawasan mangrove. Kemudian penanaman mangrove harus berbasis pemberdayaan masyarakat. Menetapkan zonasi kawasan lindung mangrove. Serta kita bisa menggunakan teknologi drone untuk monitoring kawasan mangrove itu,” jelasnya.

Kuliah umum yang dimoderatori Sholikhati Indah, berlangsung interaktif. Pelajar dan mahasiswa Unigoro memanfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan praktisi ekologi.

Kaprodi Ilmu Lingkungan Unigoro, Oktavianus Cahya menerangkan, pemilihan tema kuliah umum tersebut berkaitan dengan fenomena menyusutnya luas kawasan mangrove saat ini. Mangrove tidak sekedar menjadi tanaman penghias bibir pantai, melainkan menjadi penyeimbang ekosistem daratan dan lautan.

“Rekayasa lingkungan ekosistem di kawasan pesisir pantai sangat dibutuhkan. Untuk mempertahankan keberadaan mangrove,” terangnya.

Wakil Dekan Fakultas Sains dan Teknik Unigoro, Herta Novianto menambahkan, mangrove adalah ekosistem unik yang terdiri dari tumbuhan yang hidup di kawasan pesisir akibat pengaruh pasang surut air laut. Mangrove yang juga dikenal sebagai hutan bakau memiliki peran penting bagi daerah-daerah pesisir pantai.

“Kita bisa menjumpai mangrove di Tuban. Sedangkan di Bojonegoro meskipun tidak ada mangrove di sini, kita bisa mempelajari bagaimana menjaga ekosistem di kawasan tepian perairan. Terutama pesisir Bengawan Solo di Bojonegoro,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor Unigoro, Dr. Tri Astuti Handayani menuturkan, setiap prodi di Unigoro diwajibkan menyelenggarakan kuliah praktisi dan kuliah umum untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa. Sehingga kecerdasan tekstual bisa diimbangi dengan kecerdasan kontekstual.

“Melalui forum kuliah umum, kami berharap mahasiswa dan siswa-siswi yang hadir mendapatkan wawasan baru. Khususnya tentang pengelolaan mangrove yang mungkin nantinya kita bisa aplikasikan bersama,” tuturnya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait