Perkuat Pasar melalui Variasi Produk, Perajut Desa Sukoharjo dan Leran Ikuti Pelatihan Merajut Tas

Pelatihan merajut.
Ibu-ibu di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, mendapat pelatihan merajut tas motif double crochet yang diinisiasi oleh EMCL dengan Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) dan didukung penuh oleh SKK Migas.(ist)

SuaraBanyuurip.com – Sebanyak 25 perajut dari Desa Sukoharjo dan Leran, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengikuti pelatihan merajut tas motif double crochet selama enam hari, 18- 23 Juni 2025. Pelatihan dibagi menjadi dua lokasi yaitu di Balai Desa Sukoharjo dan di Desa Leran.

Pelatihan merajut tas motif double crochet merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Penyandang Disabilitas yang diinisiasi oleh ExxonMobil Mobil Cepu Limited (EMCL) dengan Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) dan didukung penuh oleh SKK Migas.

“Saat ini ada pesanan 100 buah tas rajut dari mitra pembeli dengan model Double Crochet atau dalam bahasa rajut stik panjang. Dikarenakan perajut didua desa ini belum bisa model tersebut maka mereka dilatih supaya bisa mengerjakan pesanan itu” ujar Laraswati, Tim Lapangan YSSI.

Di sela-sela pelatihan, Unanik peserta dari Desa Sukoharjo menyampaikan, untuk merajut model ini memerlukan kestabilan tarikan tangan supaya bentuknya bisa lurus.

“Walaupun saya sempat bongkar dari awal tetapi akhirnya jadi juga. Harus tetap semangat mengingat pesanan dari pembeli sudah datang,” imbuhnya.

Unanik yang dipercaya sebagai koordinator perajut Desa Sukoharjo dulunya tidak bisa merajut. Waktu itu kesehariannya menjaga warung yang juga menjadi tempat tinggalnya. Setelah mengikuti pelatihan merajut, sembari menjaga warung, Unanik juga mengerjakan pesanan tas rajut dari salah satu pembeli yang ada di Yogyakarta. Selain itu Unanik juga membuat produk rajut dengan mereknya sendiri yang dipajang di rumahnya.

Baca Juga :   MFA Malo U-17 Juara Bojonegoro Premier League

“Alhamdulillah saya sekarang memiliki keterampilan baru yang bisa menambah pendapatan keluarga,” ujar Unanik.

Sebagai pelatih diantaranya adalah Hartini yang merupakan koordinator Kelompok PRIMA (Perempuan Indonesia Merajut) Kecamatan Kalitidu. Hartini merasa bangga bisa melatih perajut di Desa Sukoharjo dan Leran. Harapannya dengan meningkatnya keterampilan merajut maka para peserta mempunyai peluang pasar yang lebih luas.

“Saya ingin perajut di Desa Sukoharjo dan Leran ini ikut merasakan hasil dari merajut yang selama ini menurut saya sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan keluarga saya” tutur Hartini.

Bersama dengan kelompoknya sampai saat ini Hartini sudah memproduksi sekitar 40 ribu tas rajut baik untuk ekspor maupun lokal.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Sukoharjo, Sulistiawan berkesempatan melihat secara langsung proses pelatihan. Sulistiawan memberikan apresiasi untuk program ini karena bisa mendatangkan pasar. Setelah pelatihan para peserta langsung mendapatkan pesanan dari pembeli.

“Tadi saya mendengar kalau pesanan sebelum ini sudah dibayarkan oleh pembeli. Tolong dipergunakan sebaik-baiknya,” pesan kepala desa penghasil minyak lapangan Kedung Keris, Blok Cepu ini.

Baca Juga :   Dongkrak Penjualan dan Digitalisasi UMKM, Galeri Creco Gelar Lomba Mewarnai dan Festival Musik

Sulistiawan juga berharap kedepan perajut Sukoharjo juga bisa dilatih untuk merajut produk dengan bahan daur ulang supaya selain mendapatkan uang juga mengurangi sampah.

Perwakilan EMCL, Marshay C. Ariej mengapresiasi antusiasme dan ketekunan para perempuan perajut ini. Dia menilai, semangat mereka akan mempengaruhi bagaimana produk bisa dihasilkan. Dia berharap agar semangat itu terus terjaga.

“Kami mengapresiasi semangat dan dukungan masyarakat, khususnya perempuan di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban,” ujarnya.

Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Penyandang Disabilitas yang berfokus pada kerajinan rajut dimulai sejak tahun 2018 di Kecamatan Gayam. Sampai saat ini berkembang menjadi 3 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dan 2 Kecamatan di Kabupaten Tuban. Tersedianya mitra pembeli yang menyerap produk rajut dari para peserta, menjadi nilai lebih dari program ini.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait