SuaraBanyuurip.com – Di tengah lanskap bisnis yang semakin menuntut jaminan kualitas dan keamanan, puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mendapatkan bekal fundamental.
Melalui program pengembangan sarana dan pemasaran UMKM dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bermitra dengan Ademos melakukan pelatihan Standard Operating Procedure (SOP) dan kebersihan bagi penggerak ekonomi lokal pada 11 November 2025.
Pelatihan ini dirancang bukan sekadar formalitas, melainkan sebagai intervensi kritis untuk menjawab tantangan terbesar UMKM tentang konsistensi dan kepercayaan terhadap pelanggan. Bagi pelaku UMKM, SOP adalah kunci untuk menjaga konsistensi setiap produk yang dihasilkan memiliki standar yang sama, higienitas untuk meraih kepercayaan konsumen.
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari ini membedah praktik-praktik esensial yang sering terabaikan dalam skala rumahan. Peserta mendapatkan panduan praktis mengenai alur produksi yang higienis, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan yang aman, hingga standar kebersihan diri dan peralatan.
Public and Governmnet Affairs ExxonMobil Cepu Limited, Ali Mahmud menyatakan, bahwa dukungan ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan terhadap pembangunan ekonomi.
“Kami di EMCL tidak hanya fokus pada energi, tetapi juga pada energi yang menggerakkan masyarakat yakni, kemandirian ekonomi,” ujarnya.
”Pelatihan SOP dan higienitas ini adalah fondasi. Kami percaya, produk-produk UMKM Cepu yang konsisten higienis tidak hanya akan menguasai pasar lokal, tetapi juga memiliki daya saing untuk menembus pasar yang lebih luas,”
sambung Ketua Ademos, Ahmad Shodiqurrosyad.
Selaku mitra penyelenggara, lanjut Arsyad, sapaan akrabnya menegaskan, bahwa pelatihan ini adalah upaya mengubah mentalitas bisnis.
“Tantangan UMKM kita seringkali bukan di kreativitas, tapi di standarisasi. Kreativitas tanpa SOP akan menghasilkan produk yang tidak konsisten. Produk makanan tanpa jaminan higienitas akan selamanya terjebak di pasar terbatas,” jelas Arsyad.
”Kami dan EMCL ingin memberikan ‘paspor’ agar produk mereka layak terbang lebih jauh. Paspor itu adalah SOP dan sertifikasi higienitas. Ini adalah investasi kepercayaan,” imbuhnya dalam surat elektronik diterima Suarabanyuurip.com, Rabu (12/11/2025).
Salah satu peserta, Dwi Wulan Utami, mengaku, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi pelaku usaha dan membuka wawasan baru.
”Selama ini, kami produksi berdasarkan kira-kira dan kebiasaan. Sekarang kami paham mengapa produk bisa cepat basi, atau mengapa kualitas bisa naik-turun. Dengan SOP, kami jadi lebih percaya diri untuk mendaftarkan izin edar dan menjangkau toko-toko modern,” tutur pemilik usaha cemilan sigeyong ini.
Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi menjadi titik awal transformasi proses bisnis UMKM Cepu. EMCL dan Ademos berkomitmen untuk melanjutkan pendampingan agar penerapan SOP dan standar kebersihan ini dapat berjalan secara konsisten, berkelanjutan, dan pada akhirnya menciptakan ekosistem UMKM Cepu yang tangguh dan berkualitas.(red)
Bangun Kemandirian Ekonomi, EMCL-Ademos Beri Pelatihan Pelaku UMKM Cepu





