ExxonMobil dan Mapak Perkuat Gerakan Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Pengelolaan sampah.
Rembung bareng Gerbang Sapu Bersih bersama Ibu-ibu Mapak di Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu menjadi bukti pengelolaan sampah berbasih komunitas di Kabupaten Bojonegoro semakin kuat.

SuaraBanyuurip.com – Upaya penguatan pengelolaan sampah berbasis komunitas di Kabupaten Bojonegoro, JawaTimur mendapat dorongan baru. Melalui kolaborasi ExxonMobil bersama Komunitas Emak-emak (Mapak) Sukosewu, serta Alas Institute sebagai mitra pendamping program, gerakan arisan sampah semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Penguatan gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas di Bojonegoro itu terlihat dalam Rembug Bareng Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perubahan Perilaku Hidup Bersih (Gerbang Sapu Bersih) di Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Rabu (26/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung hangat itu menjadi ruang bertukar gagasan bagi ibu-ibu Mapak yang selama ini menjalankan program pengelolaan sampah melalui mekanisme arisan sampah. Model ini mulai menarik perhatian berbagai pihak karena dinilai efektif menumbuhkan kebiasaan pemilahan dan pengurangan sampah rumah tangga.

Rembug Gerbang Sapu Bersih terselenggara atas kemitraan ExxonMobil dan Alas Institute. Dihadiri perwakilan ExxonMobil Almaliki Ukay Sukaya Subqy, Ketua PDA Bojonegoro Zuliyatin Lailiyah, Koordinator Komunitas Mapak Sukosewu Muslimah, para koordinator Mapak dari ranting se-Kecamatan Sukosewu serta tim Alas Institute.

Dalam sambutannya, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, menegaskan pentingnya membangun kecintaan terhadap lingkungan melalui tindakan konkret di tingkat keluarga. Ia mengapresiasi konsistensi para ibu Mapak yang mempraktikkan pengelolaan sampah dengan metode unik tersebut.

“Cinta lingkungan adalah perbuatan baik. Apa yang dilakukan ibu-ibu Mapak ini adalah kontribusi nyata bagi kebersihan dan masa depan lingkungan Bojonegoro,” ujar Malik, disambut tepuk tangan peserta.

Koordinator Mapak Sukosewu, Muslimah, menyampaikan dukungan ExxonMobil dan Alas Institute memberi energi baru bagi komunitas untuk memperluas jangkauan gerakan.

“Kolaborasi ini membuat kami semakin yakin bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil yang dilakukan bersama,” ucapnya.

Zuliyatin Lailiyah menambahkan, Komunitas Mapak tidak hanya aktif secara sosial, tetapi juga berprestasi setelah dinobatkan sebagai Juara 1 Bojonegoro Innovative Award 2025 berkat program arisan sampah.

“Gerakan ini terbukti mengurangi volume sampah rumah tangga dan meningkatkan kesadaran masyarakat,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, para peserta menyoroti empat isu utama yakni motivasi menjalankan arisan sampah, manfaat arisan, kendala lapangan, serta modal keberlanjutan.

Perwakilan Alas Institute, Achmad Danial Abidin, menegaskan rembug tersebut merupakan langkah awal membangun sistem pengelolaan sampah komunitas yang lebih kuat.

“Ini bukan sekadar diskusi, tetapi proses memperkuat kelembagaan agar gerakan Mapak bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain,” ujar Didin.

Suasana rembug berjalan cair. Para peserta saling berbagi cerita, termasuk pengalaman bagaimana arisan sampah mulai mengubah perilaku keluarga dan menjadikan lingkungan lebih bersih. Banyak pula ide baru muncul untuk memperluas gerakan ke desa-desa sekitar. Acara ditutup dengan doa bersama, menandai harapan agar kolaborasi lintas pihak ini terus memberi manfaat bagi masyarakat.

Rembug bareng tersebut menegaskan bahwa gerakan lingkungan bisa dilakukan dari hal sederhana yang digerakkan komunitas. Dengan sinergi baik ini, gerakan pengelolaan sampah di Sukosewu diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi wilayah lain di Bojonegoro.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait