SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Volume sampah di Bojonegoro, Jawa Timur, kian tahun semakin menggunung. Timbulan sampah potensi berdampak terhadap lingkungan hidup. Risiko banjir hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Berdasar satu data Bojonegoro, dalam dua tahun terakhir, sampah di Bojonegoro terus mengalami peningkatan. Dari 133.639,42 ton timbulan sampah di 2023, meningkat menjadi 134.329,37 di 2024. Timbulan sampah kembali meningkat sekitar 134.641,67 ton di 2025.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Luluk Alifah mengatakan, sejumlah program telah dijalankan untuk menangani peningkatan volume sampah di Bojonegoro. Misalnya satu desa satu bank sampah, Desa Berseri, Desa Proklim, dan Sekolah Adiwiyata sebagai upaya penanganan sampah.
”Selain itu, penanganan sampah juga harus ditangani dari hulu hingga hilir,” katanya, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (25/12/2025).
Dia menjelaskan, pengurangan sampah harus dilakukan dari sumbernya. Diantaranya merubah perilaku masyarakat dengan edukasi dan sosialisasi pemilahan sampah sejak rumah tangga.
”Sekolah, pasar, hingga perkantoran juga jadi sasaran utama karena menjadi salah satu sumber sampah. Solusinya prinsip reduce, reuse, recycle (3R) harus dikuatkan,” ujarnya.
Menurut Luluk, apabila timbulan sampah terus meningkat, tanpa pengelolaan yang baik, akan berdampak pada pencemaran lingkungan, meningkatnya risiko banjir, gangguan kesehatan masyarakat, hingga penurunan kualitas lingkungan hidup.
”Beban biaya pengelolaan sampah juga ikut meningkat dan memperpendek usia pakai tempat pembuangan akhir,” jelasnya.
Direktur Giri Foundation, Rian Adi Kurniawan menyampaikan, sebagai lambaga yang juga bergerak di bidang lingkungan, menangani persoalan sampah harus dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat.
”Misalnya melalui satu desa satu bank sampah, bisa menjadi salah satu media kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat,” jelasnya.
Rian, sapaan akrabnya, mengungkapkan, pengelola bank sampah harus diberikan edukasi pengelolaan sampah dan juga tentang pentingnya pilah sampah. Sehingga sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) tinggal sampah residu saja.
”Dengan langkah tersebut, secara otomatis sampah yang dibuang ke TPA menjadi berkuang,” jelasnya.
Selain itu, TPS, selain menjadi tempat pembuangan sementara (TPS), juga dapat didesain menjadi tempat pengelolaan sampah. Masyarakat diedukasi untuk melakukan pilah sampah di rumah, sehingga sampah yang dibawa ke TPS sudah terpilah.
”Petugas TPS diberikan edukasi untuk mengelola beragam jenis sampah. Sampah organik diolah jadi kompos dan sejenisnya, sampah anorganik dapat dijual ke pengepul barang bekas, selanjutnya tinggal sampah residu yang dibawa ke TPA,” terangnya.(jk)
Volume Sampah Meningkat, Potensi Berdampak Pencemaran Lingkungan





