SuaraBanyuurip.com – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur memiliki potensi besar sebagai produsen bioetanol, karena mempunyai sumber field (ladang) yang menjanjikan bagi bahan baku bioetanol, yakni jagung. Terlebih pemerintah pusat berencana membangun pabrik bioetanol di Kecamatan Ngasem dengan nilai investasi triliunan rupiah.
“Produksi bioetanol bisa diarahkan untuk bahan bakar maupun bahan farmasi,” kata SPV Fermentation and Refinery Engineer PT. Energi Agro Nusantara (Enero), M. Dimas Khoirul Umam, saat menjadi dosen praktisi Prodi Kimia Universitas Bojonegoro (Unigoro),
Kamis (27/11/2025).
Dimas menjelaskan, proses produksi bioetanol selalu diawali dengan propagasi yang tujuannya untuk pembiakan yeast (ragi, Red) secara bertahap. 100 ml larutan yeast memiliki kandungan 9 persen etanol. Sisanya air dan endapan yeast. Dilanjut dengan fermentasi untuk mengubah gula menjadi etanol. Destilasi untuk memisahkan etanol dengan MBR dan impuritis yang lain.
“Masih ada proses dehidrasi untuk menghilangkan kadar air sehingga kadar etanol mencapai 99,5 persen atau full grade. Kemudian diredestilasi lagi untuk menghasilkan produk sesuai kebutuhan costumer,” papar Dimas.
Potensi pasar bioetanol dikuasai oleh fuel grade dengan perbandingan 91,6 persen : 8,4 persen. Sedangkan di Indonesia, pasar bioetanol hanya non fuel grade dengan rata-rata peningkatan konsumsi sangat kecil. Yaitu enam persen atau sekitar 13 juta liter per tahun.
“Satu-satunya peluang pasar fuel grade adalah dukungan implementasi kebijakan pemerintah. Untuk pengembangan bioetanol sebagai biofuel untuk subtitusi BBM di Indonesia,” tandas Dimas.
Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bojonegoro Joko Tri Cahyono mengatakan, pembangunan pabrik etanol-metanol di Kabupaten Bojonegorp akan dimulai pada 2027.
“Ini merupakan proyek strategis nasional atau PSN,” tegas Joko saat menjadi narasumber Ngaji bertema “Trauma& Calon Investor: Mitos atau Realitas dikutip dari kanal youtube Dewan Jegrank.(red)






