Jaraknya hanya 500 meter dari lapangan minyak dan gas bumi (migas) wilayah kerja pertambangan (WKP) Blok Cepu. Ia bernama “Sendang Banyu Urip” terletaknya di sudut Dusun Joho, Desa Brabowan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
SIANG masih belum berlalu meremas senja. Semilir angin menggendong mendung ke arah barat redupkan terik matahari yang serasa menggores kulit. Tampak sebuah Sendang Banyu Urip kini seperti lahan rimbun biasa di pinggir jalan.
Seolah terlupakan dari sebuah cerita di mana ladang Migas yang berada di tengah permukiman warga itu punya nama. Karena tertelan perkembangan zaman yang semakin modern. Di balik kesederhanaan Sendang Banyu Urip menyimpan fakta peradaban sekaligus peran ekologis yang tak kecil, dan bukan pula sekadar tanah grumbul di sudut desa. Namun kini juga dikenal sebagai penopang lapangan migas nasional.
Dari sendang ini, gemuruh suara flare dan deru mesin pemuntah emas hitam itu terdengar jelas, ritmis, membawa nuansa industrial yang kontras dengan keteduhan di sekitarnya. Pepohonan raksasa berdiri kokoh, memayungi mata air kecil yang masih bertahan di bawahnya. Di wilayah yang dikenal panas dan gersang, Sendang Banyu Urip justru menghadirkan kesejukan yang terasa istimewa.
”Ia adalah penanda ingatan, jejak tentang bagaimana sebuah ruang hidup dinamai dan dimaknai oleh manusia,” tutur Etnograf dan Ketua Tim Riset Biodiversitas, Ahmad Wahyu Rizkiawan kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (13/12/2025).
Meski nyaris luput dari perhatian publik, kata Rizki, begitu ia karib disapa, kawasan Sendang Banyu Urip menyimpan kekayaan biodiversitas. Data yang ia himpun mencatat keberadaan pepohonan tua seperti aren, asam jawa, beringin krasak, hingga pohon ara. Dari jenis dan usianya, pepohonan ini menjadi penanda kuat bahwa kawasan tersebut bukan ruang kosong, melainkan lanskap yang pernah dikelola dengan kesadaran ekologis tinggi.
“Sendang Banyu Urip tidak tumbuh secara kebetulan. Sendang ini adalah sistem yang dibangun dan dirawat. Bukan hanya sumber air, tapi pusat kehidupan sosial dan ekologis masyarakat lama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pohon-pohon besar di sekitar sendang membentuk pola tertentu. Empat beringin raksasa, misalnya, tumbuh menyerupai formasi mandala. Akar-akarnya mencengkeram tanah, memeluk tebing kapur, dan memecah lapisan akuifer sehingga air dari bawah tanah bisa merembes ke permukaan. Metode ini lazim digunakan masyarakat Medang Kamulan di kawasan Pegunungan Kendeng untuk menjaga keberlanjutan air.
“Pohon aren, asam, beringin, dan ara, itu bukan tanaman acak. Ia adalah uborampe peradaban. Ketika mati, ditanam kembali. Tujuannya satu, air tetap hidup,” kata pria yang aktif menulis buku bergenre budaya dan etnis ini.

Meski debit mata air kini terus mengecil, kehidupan masih bertahan. Kumbang air, belalang, larva nyamuk, hingga berudu masih terlihat. Kehadiran insecta tersebut kerap dijadikan indikator bahwa kualitas air masih tergolong baik, sekalipun berada sangat dekat dengan kawasan industri migas.
Sekitar dua abad lalu, Sendang Banyu Urip bukan hanya sendang, melainkan pusat sebuah dusun. Rizki menunjuk peta kuno KTILV tahun 1860, yang mencatat Banyu Urip sebagai nama wilayah permukiman yang luas. Kala itu, kawasan ini terdiri dari tiga dusun yakni, Banyu Urip, Brabowan, dan Tanggungan.
”Ketiganya kemudian disatukan menjadi Desa Braboan,” tuturnya.
Kini, Desa Brabowan memang masih memiliki tiga dusun yaitu, Brabowan, Tanggungan, dan Joho. Namun nama Banyu Urip menghilang dari administrasi.
“Dulu orang-orang tua menyebut daerah sini Dusun Banyu Urip. Nama Joho itu baru. Pergantiannya pelan-pelan, mengikuti perubahan zaman dan administrasi,” ungkap tokoh masyarakat Desa Brabowan, Parmani, membenarkan perubahan tersebut.
Menurut Parmani, sendang dulunya adalah tanah ulayat, tanah kolektif milik masyarakat. Tempat warga mengambil air, berkumpul, dan menjalin relasi sosial.
”Sendang itu pancer desa. Sekarang fungsinya banyak yang hilang, tinggal sisa fisiknya,” bebernya.
Bagi Parmani sendiri, hilangnya nama Banyu Urip bukan sekadar soal nomenklatur. Sebab menghilangkan nama adalah cara paling efektif memutus ingatan kolektif.
“Ketika nama hilang, makna ikut terkikis,” ucap pensiunan pendidik ini dengan mimik muka prihatin.
Padahal, dalam ajaran lama masyarakat Kendeng dikenal falsafah Lengo Urup Banyu Urip, Lengo Diurupi, Banyu Diuripi, minyak dihidupkan, air dihidupi. Sebuah pesan tentang kewajiban merawat sumber kehidupan agar kehidupan itu sendiri tetap berlanjut.
Di tengah perubahan iklim yang membuat musim semakin tak menentu dan ketersediaan air makin rapuh, sendang memiliki peran vital sebagai penyangga ekologis. Ia menjaga cadangan air tanah dan menjadi indikator kesehatan akuifer. Ketika sendang mengering, itu pertanda keseimbangan air bawah tanah terganggu.
“Sendang bekerja diam-diam. Kita baru sadar nilainya ketika krisis air datang,” tandas Parmani.(Arifin Jauhari)
