Minta Program PPM Lebih Perhatikan Desa Penghasil Migas

Kades Campurejo, Edi Sampurno.
Kades Campurejo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Edi Sampurno.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Kepala Desa (Kades) Campurejo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Edi Sampurno, meminta agar sasaran Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) dari perusahaan hulu minyak dan gas bumi (migas) lebih memprioritaskan desa penghasil migas.

‎“Campurejo ini desa penghasil migas, jadi mohon betul-betul diperhatikan,” kata Edi Sampurno kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (31/1/2026).

‎Menurut Edi, desa penghasil migas menanggung dampak langsung aktivitas industri, mulai dari lalu lintas kendaraan operasional, kebisingan, hingga potensi dampak lingkungan. Karena itu, sudah semestinya desa penghasil memperoleh porsi PPM lebih besar dibanding wilayah yang tidak menjadi lokasi produksi.

‎“Desa penghasil ini kan yang langsung bersentuhan dengan aktivitas migas. Dampaknya juga kami yang merasakan setiap hari,” ujarnya.

‎Pria yang pernah mengikuti penjaringan bakal calon Bupati Bojonegoro periode 2025–2030 itu menegaskan, PPM dan CSR perusahaan migas berbeda dengan dana bagi hasil migas yang diterima daerah melalui mekanisme transfer pusat ke daerah. Dana bagi hasil bersifat umum dan dibagi ke seluruh wilayah, sementara PPM ditujukan khusus bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.

‎“CSR maupun PPM ini beda dengan dana bagi hasil migas. Kalau PPM, seharusnya memang fokus pada desa sekitar dan desa penghasil migas,” jelasnya.

‎Selain itu, lanjut Edi, sumber daya migas bersifat tidak terbarukan, sehingga manfaat jangka panjang bagi masyarakat desa penghasil harus dipersiapkan sejak sekarang melalui program pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan infrastruktur pendukung.

‎“Kalau migasnya habis, desa tetap ada. Maka PPM harus menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat desa penghasil,” tandasnya.

‎Kendati, ia mengapreasiasi program PPM yang selama ini telah berjalan dan bermanfaat. Salah satunya ialah program Gerakan Berternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) partisipasi dari Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Sukowati Field.

‎”Program Gayatri ini bagus untuk pengentasan kemiskinan, tetapi butuh sejumlah evaluasi terutama soal keberlanjutan para penerima manfaat dapat terus produksi yang hasilnya tak hanya cukup untuk beli pakan, tetapi dapat berkembang,” tegasnya.

‎Terpisah, Manager Pertamina EP Sukowati Field, Arif Rahman Hakim menyatakan, bahwa pada prinsipnya program Gayatri bagian dari PPM Pertamina EP Sukowati Field merupakan bagian dari komitmen perusahaan yang ada di tengah-tengah masyarakat Bojonegoro untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.

‎Melalui Program Gayatri, Pertamina EP Sukowati Field berharap dapat menghadirkan model pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya bersifat karitatif, tetapi mampu menciptakan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

‎”Partisipasi atas program Pemkab Bojonegoro ini diikuti oleh Pertamina EP Sukowati Field Zona 11, alhamdulillah pada 2025 Program Gayatri bisa terlaksana dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Harapan kita semoga kolaborasi positif dengan Pemkab Bojonegoro dapat terus terjalin,” tandasnya.(fin)

Pos terkait