SuaraBanyuurip.com – Sebanyak 18 perempuan perwakilan perajut PRIMA (Perempuan Indonesia Merajut) dari Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur, bersiap memperluas jangkauan ekspor mereka ke pasar Amerika Serikat. Kesiapan ini ditandai dengan keikutsertaan mereka dalam Pelatihan Pecah Pola Tas Rajut yang berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis (10–11/6/2026).
Pelatihan intensif ini merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang diinisiasi oleh operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, dengan menggandeng Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) sebagai mitra pelaksana.
Ketua Kelompok PRIMA, Wainem, menyatakan antusiasmenya terhadap pelatihan teknis yang menantang kreativitas para anggotanya ini.
“Saya sangat senang karena pelatihan ini berbeda dari yang lain. Selain diajarkan membuat sampel yang sesuai dengan selera pasar luar negeri, kami langsung mendapatkan pesanan tas rajut setelah pelatihan selesai. Kami diajak mengasah keterampilan sekaligus ketelitian berpikir,” ujarnya.
Sebelum menekuni dunia rajut, Wainem bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) dan buruh tani. Kini, merajut menjadi penopang ekonomi keluarga yang fleksibel.
“Aktivitas bertani masih saya lakukan, dan merajut menjadi pekerjaan sampingan produktif yang bisa saya kerjakan di sela-sela waktu luang di rumah,” imbuhnya.
Hingga saat ini, Wainem bersama kelompoknya telah berhasil memproduksi sekitar 46.000 panel tas rajut yang diekspor ke Amerika Serikat dan Italia melalui mitra eksportir. Selain menyuplai pasar ekspor, mereka juga aktif memasarkan produk jadi secara mandiri, baik secara luring (offline) maupun daring (online).
Kualitas kerja kelompok PRIMA pun diakui langsung oleh pihak pembeli (offtaker). Murwanti, salah satu offtaker produk rajut PRIMA, mengaku terkesan dengan etos kerja para perajut di daerah operasi migas Blok Cepu tersebut.
“Kelompok perajut PRIMA di Bojonegoro dan Tuban ini terorganisir dengan cukup baik, dan secara kualitas produk mereka sudah memenuhi standar ekspor. Semangat belajar mereka sangat tinggi, hal itu yang membuat saya sangat yakin untuk memberikan pesanan ke sini,” jelas Murwanti.
Sistem keberlanjutan program ini turut mendapat apresiasi dari Ketua Tim Penggerak PKK Desa Gayam, Maria Ulfa. Menurutnya, skema pemberdayaan yang dijalankan EMCL dan YSSI sangat ideal karena mengamankan rantai pasar terlebih dahulu sebelum melatih masyarakat.
“Model seperti ini menjamin keberlanjutan usaha. Pasarnya disiapkan dan dikunci terlebih dahulu, baru diadakan pelatihan untuk memenuhi standar pasar tersebut. Apalagi, pasarnya sekarang sudah lebih dari satu,” ungkap Maria Ulfa optimistis.
Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Penyandang Disabilitas ini pertama kali dirintis pada tahun 2018 di Kecamatan Gayam. Dalam kurun waktu delapan tahun, program ini terus berkembang pesat dan kini telah merekrut anggota dari tiga kecamatan di Kabupaten Bojonegoro serta dua kecamatan di Kabupaten Tuban. Keberhasilan ini sekaligus membuktikan bahwa perempuan di tingkat desa mampu berdaya dan menembus pasar global.(red)





