SuaraBanyuurip.com – Sampah kantong plastik yang biasanya menumpuk tak berguna bisa disulap menjadi sumber pendapatan alternatif. Kelompok perempuan yang tergabung dalam Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) mengubahnya menjadi dompet, gantungan kunci, hingga boneka rajut amigurumi yang kini rutin dipasok ke pembeli di Yogyakarta.
Para perempuan di sekitar Lapangan minyak Banyu Urip dan Kedung Keris, Blok Cepu, di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini memang sudah bergelut di dunia rajut. Selama ini produk rajut mereka berhasil menembus mancanegara. Untuk meningkatkan kualitas dan variasi produk, sebanyak 18 perajut PRIMA mengikuti Pelatihan Merajut Amigurumi dari Kantong Plastik Bekas di Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, pada 14–16 Juli 2026.
“Hasilnya cukup memuaskan,” ucap Natalia Wibowo, penjual produk rajut daur ulang asal Yogyakarta yang mengambil produk dari PRIMA ini.
Ia menilai kelompok PRIMA memiliki keunggulan kompetitif pada aspek tata kelola kelompok dan etos kerja.
“Mereka terorganisasi dengan sangat bagus, memiliki semangat belajar yang tinggi, dan pantang menyerah jika hasil produksinya dinilai belum sesuai standar. Kerja sama ini sangat menyenangkan,” kata Natalia.
Pelatihan intensif dari Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) ini merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi perempuan dan penyandang disabilitas yang diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas.
Pelatihan turut dihadiri oleh jajaran kedinasan dan pemerintahan setempat, di antaranya Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Bojonegoro Mahmudi, Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Yuri Nur Rahmawati, Camat Kalitidu Djuana Poerwiyanto, serta perwakilan EMCL Marshya C. Ariej.
Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja menyatakan komitmennya untuk mendukung peningkatan kapasitas perajut, khususnya di sektor hulu atau produksi.
“Ibu-ibu silakan sepakati pelatihan teknis apa yang dibutuhkan untuk menunjang produksi lalu ajukan ke kami, syaratnya minimal kelompok beranggotakan 20 orang. Sementara untuk kebutuhan non-produksi seperti pemasaran, dinas koperasi dan usaha mikro siap memfasilitasi,” kata Mahmudi.
Perwakilan EMCL, Marshya C. Ariej, menjelaskan bahwa ekosistem kelompok PRIMA dirancang fleksibel untuk masuk ke kedua ranah pembinaan dinas tersebut. Di satu sisi, perajut bertindak sebagai pekerja terampil yang menerima upah produksi dari pembeli (offtaker). Di sisi lain, mereka juga bertindak sebagai pelaku UMKM mandiri yang menjual produk jadi secara langsung ke konsumen.
Keberadaan jaringan pembeli (offtaker) yang siap menyerap hasil karya perajut menjadi pilar utama keberlanjutan program pemberdayaan ini, sekaligus memastikan bahwa inovasi pengelolaan lingkungan dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan warga di sekitar wilayah operasi hulu migas.
Dampak ekonomi dari pemanfaatan limbah plastik ini dirasakan langsung oleh Siti Maimunah, perajut asal Desa Sudu. Sebelum bergabung dengan kelompok PRIMA, Siti mengaku sama sekali tidak memiliki penghasilan pribadi.
“Setelah merajut, saya bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk membantu kebutuhan keluarga. Bahkan kemarin saya bisa membeli dua ekor kambing dari menyisihkan uang hasil merajut plastik ini,” ujar Siti Maimunah.
Hingga saat ini, kelompok PRIMA telah menyuplai sedikitnya 770 produk rajut berbahan kantong plastik bekas. Ketua Kelompok PRIMA Kabupaten Bojonegoro, Wainem, optimistis pelatihan ini akan memperlebar peluang pasar mereka.
“Permintaan model produk rajut plastik dari pembeli sangat variatif. Kami perlu terus belajar model-model baru agar bisa memenuhi selera pasar. Pelatihan ini membuat kami lebih percaya diri menerima pesanan baru,” pungkas perempuan yang akrab disapa Mak Nem tersebut.(red)





