SuaraBanyuurip.com – Masyarakat Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kini memiliki kemampuan mengembangkan potensi lokal menjadi geoproduk unggulan kawasan Geosite Kedung Lantung. Keberhasailan ini tidak lepas dari pendampingan yang diberikan melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Ceou bersama LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro).
Para pelaku UMKM dibekali kemampuan mengembangkan dan membangun branding produk lokal. Pelatihan pengembangan dan Branding Produk Lokal sebagai Geoproduk digelar di Balai Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Jumat (26/6/2026).
Pelatihan tersebut menjadi bekal penting bagi masyarakat Drenges untuk mengubah potensi lokal yang selama ini dimiliki menjadi produk yang memiliki identitas kuat dan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Pelatihan menghadirkan Siti Nurhidayah, S.E., Owner Zahida Painting. Peserta memperoleh wawasan mengenai strategi membangun merek, menyusun cerita di balik produk (story telling), hingga memanfaatkan pemasaran digital untuk memperluas pasar.
Menurut Siti, banyak produk lokal sebenarnya telah memiliki kualitas yang baik. Namun, tanpa kemasan yang menarik, identitas yang kuat, dan strategi pemasaran yang tepat, produk tersebut sulit bersaing di pasar.
“Produk yang memiliki cerita akan lebih mudah diingat. Karena itu, branding bukan sekadar membuat logo atau nama, tetapi membangun kepercayaan dan nilai yang melekat pada produk,” jelasnya.
Selain membahas strategi pemasaran melalui media sosial dan marketplace, peserta juga diajak mengidentifikasi potensi khas Desa Drenges yang dapat dikembangkan menjadi oleh-oleh unggulan kawasan Geosite Kedung Lantung.
Bagi masyarakat, rangkaian pendampingan yang telah dilakukan EMCL bersama LPPM Unigoro memberikan perspektif baru dalam melihat potensi desa. Mereka tidak lagi hanya memandang produk lokal sebagai hasil usaha rumahan, tetapi sebagai bagian dari identitas kawasan Geopark yang memiliki nilai tambah.
Salah satu pelaku UMKM Desa Drenges, Nopita Sari, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan.
“Sebelumnya saya hanya fokus membuat produk. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi memahami pentingnya kemasan, branding, dan cerita di balik produk. Saya semakin yakin produk kami bisa berkembang dan menjadi oleh-oleh khas Kedung Lantung,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan peserta lain yang menilai pendampingan yang dilakukan selama beberapa bulan terakhir telah memberikan banyak perubahan, mulai dari meningkatnya kemampuan mengelola destinasi wisata hingga tumbuhnya semangat masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Sementara itu, Project Manager Program Dukungan Geopark Bojonegoro dari LPPM Unigoro, Ichwan Hadi, menjelaskan pengembangan geoproduk merupakan salah satu strategi agar manfaat Geopark dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengembangan Geopark. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada pengelolaan destinasi wisata, tetapi juga menyasar penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan geoproduk yang memiliki ciri khas lokal,” ujarnya.
Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, berharap seluruh rangkaian pendampingan yang telah dilakukan mampu melahirkan UMKM yang lebih mandiri dan berdaya saing.
“Harapan kami, masyarakat tidak hanya siap menerima wisatawan, tetapi juga mampu menghadirkan produk-produk unggulan yang menjadi identitas Desa Drenges dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Melalui berbagai program pendampingan yang telah dilaksanakan, masyarakat Desa Drenges kini semakin optimistis menyambut pengembangan Geosite Kedung Lantung sebagai bagian dari Geopark Bojonegoro. Program ini juga membuka peluang lahirnya geoproduk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus memperkuat identitas lokal di mata wisatawan.(red)





