SuaraBanyuurip.com – Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, menunjukkan kesiapan yang menonjol dalam rangkaian validasi UNESCO Global Geopark (UGGp) Geopark Nasional Bojonegoro.
Di balik capaian tersebut, LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro) memegang peran penting. Melalui pendampingan pengembangan kawasan, penyusunan informasi ilmiah, penguatan infrastruktur pendukung, serta pemberdayaan masyarakat agar pengelolaan geosite berjalan secara berkelanjutan. Keunggulan tersebut menjadikan Kedung Lantung sebagai salah satu titik yang mendapat perhatian dalam proses validasi oleh dua asesor UNESCO, Andreas J. Schuller (Jerman) dan Li Yue (Tiongkok).
Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina R menuturkan, pengembangan geosite Kedung Lantung merupakan hasil dukungan program pelibatan dan pengembangan masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, yang dilaksanakan bersama LPPM Unigoro. Geosite ini dikenal memiliki fenomena rembesan minyak alam (natural oil seepage) bernilai internasional.
“Jadi tidak hanya menampilkan keunikan geologi. Tetapi juga memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan, konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat dipadukan dalam satu kawasan yang saling terintegrasi,” tuturnya dalam asesmen validasi UGGp Geopark Nasional Bojonegoro, Rabu (29/7/26).
Laily yang juga Tenaga Ahli Biodiversitas Tim Pendamping Teknis BP Geopark Bojonegoro, mempresentasikan hasil penelitian mengenai kondisi ekosistem Kedung Lantung. Dia memaparkan, kawasan ini telah memiliki data pemantauan kualitas air yang dikumpulkan secara berkala untuk mengevaluasi pengaruh rembesan minyak kronis terhadap kondisi perairan. Termasuk hasil penelitian tentang keanekaragaman hayati yang berkembang melalui proses adaptasi alami selama jutaan tahun.
“Sehingga memperlihatkan keterkaitan erat antara proses geologi dengan kehidupan biologis yang ada saat ini,” terangnya.
Keberadaan geosite Kedung Lantung memiliki hubungan erat dengan masyarakat. Air dari kawasan Kedung Lantung dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung budidaya pertanian, terutama padi dan singkong. Yang kemudian diolah menjadi geoproduk khas, seperti Balung Kuwuk dan Marning Drenges.
“Keterhubungan antara geologi, biodiversitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat tersebut menjadi salah satu contoh nyata implementasi konsep UNESCO Global Geopark yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan,” imbuh dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro.
Salah satu hal yang mendapat perhatian khusus dari kedua asesor UNESCO adalah pendekatan komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan informasi kepada pengunjung. Andreas J. Schuller dan Li Yue mengapresiasi desain pamflet infografis yang menggunakan ilustrasi karakter anak-anak. Menurut mereka, pendekatan visual tersebut membuat informasi i menjadi lebih menarik, komunikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kelompok usia, khususnya anak-anak, sehingga tidak terkesan kaku maupun terlalu ilmiah.

Andreas, juga menegaskan bahwa keberhasilan sebuah UGGp tidak hanya ditentukan oleh keunggulan warisan geologi yang dimiliki.
“Keunggulan geologi saja tidak cukup. Faktor yang paling menentukan keberhasilan sebuah geopark adalah keterlibatan dan dukungan masyarakat yang hidup di dalamnya,” tukasnya.
Pembangunan Geosite Kedung Lantung Capai 70 Persen
Pembangunan kawasan Geosite Kedung Lantung sekarang ini mencapai sekitar 70 persen dari keseluruhan rencana pengembangan. Berbagai fasilitas telah tersedia, mulai dari panel informasi edukatif, gazebo, panggung observasi untuk mengamati langsung rembesan minyak, hingga jalur interpretasi yang memudahkan pengunjung memahami proses geologi yang berlangsung.
Ke depan, kawasan ini juga akan dilengkapi menara pandang setinggi 12 meter serta bangunan toilet enam ruang, termasuk fasilitas ramah disabilitas dan ruang menyusui.
Menjelang proses validasi UNESCO, semangat gotong royong tampak begitu kuat melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan Desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, LPPM Unigoro, EMCL, serta mahasiswa KKN Tematik Kolaboratif Unigoro yang selama sepekan terakhir bersama-sama menata dan menyempurnakan kawasan geosite.
Perwakilan Pokdarwis Kedung Lantung, Rico Thomas, menjelaskan site plan pengembangan kawasan beserta arah pembangunan geosite sebagai destinasi edukasi, konservasi, dan geowisata yang berkelanjutan di hadapan asesor dua UNESCO.
Aspek ilmiah turut menjadi perhatian utama dalam penilaian tersebut. Prasetyadi, Tenaga Ahli Geologi Tim Pendamping Teknis Badan Pengelola (BP) Geopark Bojonegoro sekaligus dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, juga menerangkan proses terbentuknya rembesan minyak alam yang menjadi dasar nilai geologi internasional Geosite Kedung Lantung.(red)





