SuaraBanyuurip.com – Di perairan Laut Jawa yang biru dan tenang, puluhan perahu nelayan tampak bergerak perlahan. Dari kejauhan, sebuah sosok raksasa tampak kokoh mengapung di tengah laut. Bagi mereka yang baru melihatnya, fasilitas itu mungkin hanya terlihat sebagai kapal besar. Namun, bagi ribuan nelayan di pesisir utara (pantura) Lamongan dan Tuban, Jawa Timur, kapal tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namanya kapal Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang.
Berdiam sekitar 35 mil laut dari garis pantai Lamongan, fasilitas penyimpanan dan alir muat minyak mentah itu memegang peranan penting dalam produksi minyak mentah nasional. Dengan kapasitas mencapai 1,7 juta barel minyak mentah, FSO Gagak Rimang telah beroperasi sejak 2015 menerima aliran minyak dari Blok Cepu, Kabupaten Bojonegoro, melalui pipa sepanjang sekitar 95 kilometer.
Namun, kisah tentang Gagak Rimang bukan semata soal minyak dan energi. Di baliknya, tersimpan cerita tentang bagaimana masyarakat pesisir belajar menjaga laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Sepanjang garis pantura Lamongan yang membentang sekitar 47 kilometer, lebih dari 26.000 jiwa menggantungkan hidup pada hasil laut. Bagi mereka, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Laut adalah ruang hidup, warisan leluhur, sekaligus harapan yang diwariskan kepada anak cucu.
Kesadaran itulah yang perlahan mengubah cara pandang nelayan terhadap keberadaan fasilitas migas di tengah wilayah tangkap mereka.
“Dulu kami hanya tahu itu tempat minyak. Sekarang kami paham kalau fasilitas ini aman, laut pun terjaga. Kalau sampai terjadi kebocoran, ikan dan terumbu karang rusak. Mata pencaharian kami juga hilang,” ujar Haji Sukri, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan.
Dia mengatakan, pemahaman itu tumbuh setelah melalui berbagai sosialisasi dan program pendampingan berkelanjutan dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Blok Cepu.
Dia menyampaikan, para nelayan memahami adanya Zona Terlarang dalam radius 500 meter dari titik pusat FSO serta Zona Terbatas hingga radius 1.750 meter.
Bagi Haji Sukri, batas-batas itu tentu bukan sekadar aturan administratif. Di tengah laut yang setiap hari mereka arungi, zona tersebut menjadi pagar keselamatan bagi nelayan sekaligus perlindungan bagi fasilitas strategis negara, obyek vital nasional.
Pria berusia 65 tahun itu mengungkapkan, ratusan perahu pancing ulur dan perahu bubu yang rutin melintas kini telah terbiasa menjaga jarak. Mereka memahami risiko lalu lintas kapal tanker besar yang datang mengambil minyak di FSO Gagak Rimang untuk dibawa ke kilang pengolahan.
Kesadaran bersama itu, lanjut dia, melahirkan peran baru bagi nelayan. Jika dahulu mereka hanya dikenal sebagai pencari ikan, kini mereka juga menjadi penjaga laut. Setiap perjalanan melaut sekaligus menjadi patroli alami. Mereka memperhatikan kondisi perairan, memantau aktivitas yang mencurigakan, dan saling mengingatkan apabila ada nelayan lain yang mendekati area terlarang.

Di mata Muchlisin Amar, 62 tahun, tokoh nelayan Lamongan, menjaga keamanan FSO Gagak Rimang bukan lagi tanggung jawab perusahaan semata.
“Kami sudah dibekali nomor darurat dan cara melapor. Menjaga Gagak Rimang itu bukan tugas orang lain, tapi tugas kami juga sebagai warga pesisir. Ini bentuk gotong royong menjaga masa depan anak cucu,” ujarnya.
Di bawah terik matahari yang memantul di permukaan laut dan di antara deburan ombak yang tak pernah berhenti, para nelayan pantura Lamongan dan Tuban menjalankan peran itu dengan kesadaran penuh.
Hasilnya mulai terlihat. Sejak program pembinaan bersama digulirkan, tidak lagi tercatat pelanggaran batas wilayah yang berpotensi mengganggu operasional maupun membahayakan lingkungan. Komunikasi antara nelayan dan Gagak Rimang berjalan lebih terbuka, sehingga berbagai potensi risiko dapat dicegah lebih dini.
‘’Bagi masyarakat pesisir, menjaga Gagak Rimang berarti menjaga laut. Dan, menjaga laut berarti menjaga kehidupan,’’ imbuh pria yang memilih tetap terlihat muda dengan selalu bertopi itu.
Berdayakan UMKM Olahan Ikan
Aroma terasi yang khas, sudah lama menjadi penanda dapur masyarakat pesisir Lamongan. Di Kecamatan Paciran, bumbu berbahan dasar udang rebon itu bukan sekadar pelengkap masakan, melainkan warisan keluarga yang diwariskan lintas generasi. Di balik aroma yang tajam, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan para pengrajin menjaga tradisi di tengah keterbatasan.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar pengrajin memproduksi terasi dalam bentuk batangan. Cara pengolahan yang masih sederhana membuat produk mudah berjamur ketika disimpan terlalu lama. Jangkauan pemasarannya pun terbatas di pasar-pasar tradisional dengan nilai jual yang relatif rendah.
Keadaan mulai berubah ketika program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan EMCL menyentuh sentra pengrajin di Paciran dan Brondong pada 2022. Melalui pendampingan, pelatihan, serta dukungan teknologi, para pelaku usaha diajak mengubah cara pandang terhadap produk yang selama ini dianggap biasa.

Terobosan paling nyata adalah mengubah terasi batangan menjadi terasi bubuk siap pakai. Inovasi sederhana itu ternyata membawa perubahan besar. Produk menjadi lebih higienis, lebih awet, praktis digunakan, sekaligus memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Hingga pertengahan 2026, sedikitnya sepuluh pelaku usaha terasi binaan berhasil melakukan transformasi tersebut.
Salah satunya adalah Fredy Sugianto, 36. Pengusaha terasi dengan jenama “Dua Terasi” itu melanjutkan usaha yang dirintis sang Ibu lebih dari dua dekade lalu. Baginya, perubahan bukan hanya soal mengganti bentuk produk, tetapi juga mengubah masa depan usaha keluarga.
Melalui program EMCL, Fredy memperoleh pelatihan mengenai pengolahan pangan yang baik, standar kebersihan, hingga bantuan mesin penggiling, mesin pengering, dan mesin press yang membuat proses produksi lebih efisien.
“Selama ini kami buat terasi hanya dipadatkan jadi balok, mudah berjamur kalau lama disimpan dan harganya murah. Sejak dibantu EMCL mengolahnya jadi bubuk, kualitasnya lebih terjaga, aromanya tetap kuat, dan konsumen lebih suka karena praktis dipakai tanpa perlu dimasak,” ujarnya.
Perubahan itu segera terasa dalam perjalanan usahanya. Omzet meningkat hingga Rp8 juta setiap bulan. Pasarnya yang dulu hanya berputar di sekitar Lamongan kini meluas ke Gresik, Jakarta, Bogor, Bali, Demak, Madiun, Magetan, hingga Samarinda.
Tidak hanya kualitas produk yang meningkat, cara pemasaran pun ikut berubah. Fredy mulai menerapkan pelabelan yang lebih profesional dengan mencantumkan komposisi serta tanggal kedaluwarsa sehingga produknya memenuhi standar untuk dipasarkan lebih luas.
“Kami juga dibekali cara memberi label yang jelas, mencantumkan tanggal kedaluwarsa dan komposisi. Sekarang produk kami sudah layak masuk ke toko oleh-oleh dan masuk pasar daring, bukan cuma dijual di pinggir jalan,” katanya.
Keunggulan lain dari inovasi tersebut adalah daya simpan. Terasi bubuk mampu bertahan lebih dari tiga tahun, jauh lebih lama dibandingkan produk batangan yang rentan mengalami penurunan kualitas.
Semangat yang sama juga dirasakan Devi Uliana, 42, pemilik Rumah Fajrin Paciran. Sejak memperoleh pelatihan teknis dan bantuan mesin pengering serta mesin pemotong pada 2022, usahanya berkembang pesat. Tak hanya memproduksi terasi, dia juga mengembangkan sambal rujak dan berbagai varian kerupuk ikan.
Kini omzet usahanya mencapai sekitar Rp10 juta setiap bulan. Produk-produk Rumah Fajrin telah dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh di sepanjang pesisir Lamongan dan Tuban, menjangkau reseller, hingga dipasarkan melalui platform daring.
“EMCL sangat membantu memasarkan. Sering kalau pameran, produk saya dibawa,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Lamongan tersebut.
Kisah para pelaku usaha di pesisir Lamongan menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Pendampingan, peningkatan keterampilan, dan sentuhan teknologi mampu mengangkat produk tradisional menjadi komoditas yang lebih kompetitif.
Terasi yang dahulu hanya dikenal sebagai bumbu sederhana kini hadir dalam wajah baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Dari dapur-dapur kecil di Paciran, aroma khas udang rebon itu kini menembus pasar yang lebih luas, membawa harapan baru bagi keluarga pengrajin sekaligus menjaga warisan kuliner pesisir agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.(red)





