SuaraBanyuurip.com – Seluas 230 hektar lahan di Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi program demplot (percontohan) pertanian. Program ini didampingi oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) PCNU Bojonegoro. Tujuanya meningkatkan produksi pertanian dalam mewujukan ketahanan pangan memelalui penerapan teknologi budidaya yang efisien dan sesuai kondisi lapangan.
Program demplot di Desa Mulyorejo diawali dengan tradisi Wiwit di balai desa setempat, Rabu (16/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program PCNU Bojonegoro untuk mendorong ketahanan pangan sekaligus melestarikan tradisi masyarakat Jawa.
Tradisi Wiwit (tanam) padi dihadiri Wakil Rais Syuriah PCNU Bojonegoro KH. Saifurrohmah Dimyati, Wakil Ketua PCNU Bidang Ekonomi H. Nurhadi, Ketua LPPNU PCNU Bojonegoro Nuruddin, Kepala Desa Mulyorejo beserta perangkatnya, serta perwakilan petani.
Ketua LPPNU PCNU Bojonegoro, Nuruddin mengatakan, Wiwit merupakan bentuk rasa syukur masyarakat sebelum menerima hasil dari proses pertanian. Tradisi ini merupakan bagian dari kearifan masyarakat Jawa yang layak dilestarikan.
“Wiwit ini merupakan bentuk syukur sebelum menerima nikmat. Ini merupakan kearifan lokal yang perlu dipertahankan,” kata Nuruddin.
Nuruddin menjelaskan, pendampingan yang dilakukan LPPNU salah satunya melalui pelatihan dan sosialisasi teknologi budidaya pertanian. Teknologi yang diperkenalkan mengedepankan prinsip yang mudah diterapkan petani, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, serta memberikan manfaat bagi keberlangsungan usaha tani.
“Yang kita lakukan adalah pelatihan atau sosialisasi teknologi budidaya pertanian yang mudah, melimpah, dan berkah,” jelas Nuruddin.
Salah satu lokasi pendampingan berada di Desa Mulyorejo. Di wilayah tersebut terdapat demplot pertanian padi dengan luasan mencapai sekitar 230 hektare. Pendampingan melibatkan pemerintah desa dan Kodim 0813 Bojonegoro.
LPPNU Bojonegoro juga mendorong penggunaan pupuk organik kepada petani sesuai dengan anjuran. Menurut Nuruddin, penerapan tersebut berdampak pada biaya produksi yang relatif lebih rendah.
“Biayanya relatif turun, tapi produksinya meningkat. Informasinya hasil padinya meningkat 30 persen,” imbuhnya.(red)





