Indonesia Defisit BBM 1 Juta Barel Per Hari

Wazirul Luthfi
Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP (Pertamina Hulu Energi Zona 11), Wazirul Luthfi, mengatakan, untuk menutup defisit kebutuhan BBM, Indonesia masih mengimpor minyak 1 juta barel per hari. (SuaraBanyuurip.com/Ist dari RPS Tuban)

SuaraBanyuurip.com – Laeman Harjo Wasito

Tuban – Kebutuhan energi berupa bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari. Sedangkan kapasitas produksi minyak bumi di tanah air, berkisar pada angka 600.000 hingga 610.000 barel per hari.

‎Oleh karena itu Nusantara masih harus mengimpor minyak dengan hitungan 1 juta barel per hari. Mendatangkan minyak dari luar negeri itu, untuk menutup defisit bagi pemenuhan BBM dari 290 juta jiwa warga negara.

‎Hal itu disampaikan Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP (Pertamina Hulu Energi Zona 11), Wazirul Luthfi, saat memberikan pemaparan dalam pelatihan jurnalistik tingkat pelajar yang diinisiasi oleh Ronggolawe Press Solidarity (RPS) di MAN 2 Tuban, Jawa Timur, Rabu (23/09/2026).

‎”Defisit itu membuat Indonesia mau tidak mau harus mengimpor satu juta barel per hari, untuk menutup kekurangan produksi dalam negeri,” ujar Wazirul Luthfi.

‎Ia katakan, untuk menopang kebutuhan minyak dalam negeri, Pemerintah Indonesia menargetkan produksi minyak bumi sebanyak 1 juta barel per hari. Angka itu ditargetkan akan dicapai pada tahun 2030 mendatang.

‎Pada bagian lain, Luthfi, demikian ia akrab disapa, memprediksi hingga tahun 2050 kebutuhan energi yang bersumber dari fosil masih dibutuhkan. Seperti minyak, gas maupun batu bara. Meskipun pada saat itu, sebanyak 35 persen dari kebutuhan energi sudah dikonversikan ke energi yang terbarukan.

Mobile Jurnalisme

‎Pada bagian lain Luthfi mengatakan, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang kian pesat telah mengikis batasan wilayah (borderless), sekaligus mengubah lanskap media massa. Kehadiran platform digital, dan  smartphone kini memungkinkan siapa saja untuk merekam dan mempublikasikan peristiwa secara cepat (mobile journalism).

‎Walau demikian nilai kebenaran dan etika jurnalistik, dinilai tetap menjadi benteng utama dalam menyaring arus informasi di tengah masyarakat. Teknologi modern memberikan keunggulan tersendiri bagi generasi muda. Saat ini untuk memproduksi karya jurnalistik, seseorang tidak lagi harus bergantung pada peralatan atau kamera besar.

‎”Cukup dengan smartphone, cerita besar bisa dimulai. Di era konvergensi media saat ini, satu cerita bisa menjangkau banyak platform dan audiens,” ujar Luthfi di hadapan peserta pelatihan.

‎Pria ramah itu menekankan, pentingnya penguatan etika, pemahaman verifikasi, serta integritas bagi jurnalis muda. Informasi yang baik akan membangun masa depan lebih baik, tetapi informasi hoaks dapat membangun perpecahan.

‎”Di situlah peran jurnalis hadir sebagai penjaga kebenaran,” tegas Luthfi.

‎Dalam kesempatan tersebut, Wazirul Luthfi, mengapresiasi langkah edukasi dan pembinaan jurnalis muda yang dilakukan di tingkat sekolah menengah. Ia menilai regenerasi jurnalis yang melek teknologi sangat dibutuhkan, untuk mengimbangi dinamika era digital.

‎Kendati begitu, ia menekankan penguasaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), maupun perangkat canggih lainnya, harus selaras dengan nilai-nilai adab dan karakter yang baik. (Lhw)

Pos terkait