SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur mengembangkan potensi wisata alam Banyu Kuning di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, melalui program Trip Edukasi Kemah Adventure Dolanan (TeKaD). Kawasan yang memiliki mata air hangat dengan endapan mineral berwarna kuning menjadi daya tarik tersendiri.
Program ini diharapkan memperkuat daya tarik wisata edukasi dan petualangan sekaligus mendukung upaya mendorong Geopark Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Program TeKaD resmi diluncurkan Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah di jalur pendakian Gunung Pandan, turut Dusun Jomblangjati, Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Sabtu (24/10/2026).
Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, M. Amin Asrofin, mengatakan, pengembangan Banyu Kuning bukan baru dimulai tahun ini. Pemkab Bojonegoro telah memasukkan kawasan tersebut dalam rencana pengembangan destinasi wisata sejak 2017.
“Pada 2017, Banyu Kuning menjadi salah satu dari empat objek wisata kawasan hutan yang diajukan untuk dikerjasamakan dengan Perum Perhutani,” katanya kepada Suarabanyuurip.com.

Pada 2019, kawasan tersebut dinilai memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan melalui perbaikan akses jalan dan penambahan fasilitas pendukung.
Upaya pengembangan kemudian berlanjut melalui inisiatif pembukaan jalur pendakian Gunung Pandan via Banyu Kuning pada 2025. Inisiatif tersebut melibatkan komunitas lingkungan, pemerintah kecamatan, dan Pemerintah Desa Krondonan untuk mengoptimalkan potensi alam sekaligus menjaga kelestarian ekosistem.
Pegiat lingkungan, Anggara Putra menuturkan, Banyu Kuning menawarkan perpaduan keunikan geologi dan keindahan alam. Mata air hangat yang muncul di antara bebatuan menjadi daya tarik utama. Airnya tampak jernih, sedangkan bebatuan di dasar aliran berwarna kuning akibat endapan mineral.
Berada di kawasan perbukitan Gunung Pandan, Banyu Kuning dikelilingi vegetasi hijau dan bentang alam berbatu. Kawasan ini juga memiliki nilai edukasi karena fenomena mata airnya berkaitan dengan proses geologi dan kondisi batuan setempat.
Potensi tersebut menjadikan Banyu Kuning layak dikembangkan sebagai destinasi geowisata yang memadukan rekreasi, edukasi lingkungan, dan petualangan. Terlebih, kawasan ini terhubung dengan jalur pendakian Gunung Pandan melalui Desa Krondonan.
“Ini jalur pendakian bagus untuk pendaki pemula,” tutur Anggara.
Pria ramah ini menilai, melalui TeKaD, pengembangan wisata diharapkan tidak hanya menambah pilihan destinasi, tetapi juga membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Kini pengembangan tersebut ditopang dengan penataan kawasan, penyediaan fasilitas, keselamatan pengunjung, serta edukasi mengenai nilai geologi dan lingkungan. Dengan begitu, Anggara meyakini, aktivitas wisata dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian alam Gunung Pandan.(fin/adv/kominfo)



