Sasmito: Mas Wahyu Pelopor Perdamaian Pesilat Bojonegoro

Sasmito
Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Bojonegoro, Sasmito (kanan), saat memikul jenazah almarhum Kangmas Wahyu Subakdiono dari rumah duka untuk diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir.(suarabanyuurip.com/ist)

SuaraBanyuurip.com – Kepergian Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (SH Terate) Cabang Kabupaten Bojonegoro, Pusat Madiun, Wahyu Subakdiono, pada Rabu (28/10/2026), meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar pencak silat dan masyarakat Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

‎Almarhum dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya pencak silat. Semasa hidupnya, almarhum juga konsisten merawat kerukunan, persaudaraan, dan pelopor perdamaian antarpesilat di Bojonegoro.

‎Hal tersebut disampaikan Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Bojonegoro, Sasmito, kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (29/10/2026).

‎Sasmito mengenang almarhum Wahyu Subakdiono sebagai sosok yang menjadi panutan bagi anggota berbagai perguruan silat. Sebab tidak hanya berperan dalam organisasi, tetapi juga mendedikasikan diri untuk kemajuan pencak silat serta penguatan persaudaraan di Bojonegoro.

‎“Beliau tidak pernah tertinggal dalam segala kegiatan pencak silat di Bojonegoro. Beliau juga salah satu pelopor berdirinya Bojonegoro Kampung Pesilat (BKP) di Bojonegoro dan mengemban sebagai ketua,” kata Sasmito.

‎Semangat almarhum dalam membangun kerukunan antarpesilat patut menjadi teladan, terutama bagi generasi muda. Di tengah kesibukan dan berbagai tantangan, almarhum tetap menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan pencak silat serta pentingnya menjaga persatuan di antara perguruan.

‎Dedikasi tersebut terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai kegiatan pencak silat dan upayanya menjaga hubungan baik antarpersaudaraan. Sebagai salah satu tokoh Bojonegoro Kampung Pesilat, almarhum turut berkontribusi dalam membangun suasana harmonis di tengah keberagaman perguruan pencak silat.

Baca Juga :   Ribuan Warga SH Terate Bojonegoro Hadiri Halalbihalal di Gantari Kirana

‎Selain aktif dalam organisasi BKP, Kangmas Wahyu, sapaan akrab almarhum, juga menjabat sebagai Ketua SH Terate Cabang Kabupaten Bojonegoro. Sosoknya dikenal disegani dan menjadi panutan bagi banyak kalangan.

‎“Beliau merupakan sosok yang disegani dan menjadi panutan bagi banyak kalangan,” tutur Sasmito.

‎Bagi Sasmito, petuah dan sikap almarhum dalam kehidupan bermasyarakat menjadi pelajaran berharga bagi para pesilat. Kepeduliannya terhadap budaya pencak silat tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui keterlibatan nyata dalam berbagai kegiatan.

‎Kepergian Kangmas Wahyu, lanjutnya, merupakan kehilangan besar bagi dunia pencak silat di Bojonegoro. Almarhum telah meninggalkan kenangan serta nilai-nilai kebaikan, terutama semangat persaudaraan dan perdamaian yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerusnya.

‎“Selamat jalan, Mas Wahyu. Beliau sesepuh dan tokoh yang sangat baik di Bojonegoro. Banyak pelajaran berharga yang dapat diambil sebagai hikmah dari perjalanan hidup beliau,” kenangnya.

‎Tidak hanya berkecimpung dalam dunia pencak silat, almarhum juga aktif dalam kegiatan kebudayaan dan kesenian. Almarhum dikenal turut memperjuangkan aspirasi para budayawan dan pegiat seni di Bojonegoro.

Baca Juga :   SH Terate Cabang Bojonegoro Sahkan Ribuan Warga Baru Tingkat Satu

‎Sasmito mengaku, memiliki kedekatan dengan almarhum, tidak hanya dalam urusan pencak silat, tetapi juga dalam berbagai kegiatan seni dan budaya, termasuk dalam keseharian.

‎“Saya selalu bersama beliau, tidak hanya urusan silat saja, tetapi juga urusan kesenian dan kebudayaan. Bahkan, urusan ngopi kami juga sering bersama beliau,” ungkap pria yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bojonegoro tersebut.

‎Sasmito juga mengenang kemampuan Kangmas Wahyu dalam menata penampilan pencak silat yang melibatkan banyak peserta dari berbagai perguruan. Menurutnya, almarhum mampu mengoordinasikan koreografi sehingga pertunjukan pencak silat dalam skala besar, termasuk di alun-alun Bojonegoro, dapat tersaji dengan baik.

‎Kepergian almarhum menjadi pengingat bahwa pencak silat tidak sekadar seni bela diri, tetapi juga mengandung nilai persaudaraan, penghormatan, kebersamaan, dan tanggung jawab untuk menjaga kedamaian di tengah masyarakat.

‎”Nilai-nilai tersebut menjadi warisan penting dari perjalanan hidup almarhum yang diharapkan terus dilanjutkan oleh keluarga besar perguruan pencak silat dan generasi penerus di Bojonegoro,” pungkasnya.(red/ko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait