SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – DPRD Bojonegoro, Jawa Timur, mendukung program pemerintah pusat meningkatkan target lifting migas 2019 sebesar 2,02 juta barel dan menjaga produksi agar dapat dinikmati generasi mendatang.
Dukungan tersebut diberikan karena Bojonegoro penyumbang hampir 30 persen produksi minyak nasional.Â
“Saya kira target itu realitis dengan konsep rencana kerja yang sudah disiapkan,” kata Ketua DPRD Bojonegoro, Sigit Kushariyanto menanggapi target lifting migas 2019 yang ditetapkan pemerintah kepada suarabanyuurip.com, Rabu (27/2/2019).
Saat ini Bojonegoro penyumbang terbesar produksi minyak nasional. Ada beberapa lapangan minyak yang menjadi andalan pemerintah pusat. Diantaranya Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, yang di kelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Lapangan ini telah berproduksi puncak sebanyak 200.000 barel per hari (bph)-satu barel setara 159 liter.
Produksi minyak Banyu Urip ini akan meningkat pada akhir 2019 setelah Lapangan Kedung Keris (KDK) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, memuntahkan emas hitam. Produksi minyak KDK diperkirakan bisa mencapai 10.000 bph.
Kemudian Lapangan Sukowati, Blok Tuban, yang saat ini dikelola Pertamina EP Field Sukowati, menggantikan Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java yang sudah habis masa kontraknya. Produksi minyak Sukowati sekarang ini sebanyak 17.235 bph atau 121.65 % di atas target produksi Asset 4 tahun 2018 sebesar 14.032 BOPD.
Produksi Sukowati sekarang ini merupakan penyumbang produksi terbesar diantara lapangan minyak yang ada di Asset 4.
Produksi minyak Sukowati ini bisa meningkat signifikan jika Lapangan Pad C-1 di Dusun Karang, Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, segera dikembangkan. Produksi lapangan ini bisa mencapai 1.000-2.000 bph.
Sesuai sekenario awal, pengembangan Pad C-1 ini untuk mengambil cadangan minyak di bawah alun-alun dan Pendapa Pemkab Bojonegoro dengan cara pemboran miring sejauh 1,5 kilo meter.
 “Saya harapkan rencana pengembangan itu segera dilanjutkan. Agar bisa menambah lifting minyak nasional, dan memberikan multiplier efect bagi masyarakat dan pemerintah daerah Bojonegoro,” tutur politisi Partai Golkar itu.
Namun rencana pengembangan Pad C Sukowati terbentur Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). Sekalipun SKK Migas bersama operator lama-JOBP-PEJ- telah mensosialisasikan rencana pembebasan lahan untuk penyiapan tapak sumur seluas 4,8 hektar (Ha) dengan jumlah pemilik sebanyak 21 warga. Sebagian besar pemilik lahan menginginkan agar tanah mereka tidak beli, melainkan ditukar guling.
“Semua pihak harus mendukung proyek strategis nasional ini. Karena eksplorasi ini dibutuhkan untuk tetap menjaga produksi dan keberlangsungan pemenuhuhan energi,” tegas Sigit, panggilan akrab Sigit Kushariyanto.Â
Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada Pemkab Bojonegoro mempermudah segala perizinan pengembangan lapangan migas yang ada di wilayahnya. Serta masyarakat menjaga kondunsifitas wilayahnya agar pelaku usaha migas bisa melaksanakan aktivitasnya dengan lancar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
“Ini akan membuka peluang usaha dan kerja bagi warga sekitar. Daerah juga akan memperoleh dana bagi hasil migas yang lebih besar, jika semakin banyak lapangan-lapangan migas yang berproduksi,” tandas pria yang pernah menjadi Kepala Desa Ngraseh, Kecamatan Dander itu.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, I Nyoman Sudana, menjelaskan jika RDRTK untuk pengembangan Lapangan Pad C Sukowati masih tahap singkroniasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kita masih menunggu itu,” ucapnya.
Selain Lapangan Minyak, di Bojonegoro juga sedang dilakukan pengembangan Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru. Lapangan ini memiliki cadangan sebanyak 2,5 triliun kaki kubik (TCF) yang akan diproduksi selama 25 tahun, dengan menghasilkan sales gas (gas siap jual) sebesar 192 MMscfd.Â
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, menjelaskan ada tiga tahapan strategi untuk menggenjot produksi migas tahun ini. Yakni jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Jangka pendek yang akan dilakukan salah satunya melakukan Fracturing, balanced drilling untuk mempercepat produksi dari lapangan existing dalam jangka 2 – 3 tahun.Â
Untuk jangka menengah, Pemerintah tengah menggalakkan Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk aset yang produktif. Sementara metode jangka panjang, dapat ditempuh dengan cara eksplorasi lapangan migas.Â
“Untuk anak cucu kita, tentu usaha eksplorasi adalah pilihan tepat menjaga produksi migas,†kata Wamen dilansir dari laman situs setkab.go.id.(suko)