Bergantung dari Aktifitas Proyek

SuaraBanyuurip.comWinarto

Mendirikan jasa waraung disekiar lokasi sumur minyak Banyuurip – Jambaran tidak selamanya berbuah manis. Sebab usaha ini akan banyak meraup keuntungan ketika proyek.  Berjalan.

“Sekang sepi mas, karena akitifitas proyek berkurang,” kata Muksri pemilik warung belakang lokasi Gos Oil  Separation Plant (GOSP) Banyuurip, di Desa Gayam, Kecamatan Ngasem.

Sepinya pekerja proyek yang jajan di warungnya ini membuat pendapatan Muskari menurun drastis. Rata-rata sehari dia hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp. 200 ribu. Berbeda dengan dulu, ketika proyek kontruksi berlangsung, perharinya Maskuri bisa meperoleh uang Rp. 700 ribu hingga Rp. 900 ribu.

“Berbeda sekali ketika ada proyek. Tapi saya tetap bersyukur meski sudah tak adalagi pekerja proyek, tapi banyak warga sekitar dan scuryty di GOSP yang makan dan jajan kesini,” imbuh Ibu satu anak ini.

Meski pelanggan menurun, Muksri tetap bertahan. Sebab usaha inilah yang menjadi gantungan hidupnya. Dia yakin, usahanya ini akan kembali ramai saat proyek pengembangan penuh lapangan minyak Banyuurip berjalan.Selain itu, warung merukan tulang punggung keluarga.

Baca Juga :   Programnya Menumbuhkan Usaha Baru Sektor Pertanian

Dirinya berharap, para pemilik warung seperti dirinya ini mendapatkan pelatihan dari MCL. Semisal pelatihan membuat kue. Karena dengan memiliki keahlian membauat kue maka akan mampu mengembangkan usahanya.

“Kalu bisa membuat kue, kita dapat memenuhi kebutuhan orang punya hajat (sukuran). Sehingga tidak hanya bergantung pada usaha warung,” pungka Muskuri.

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *