SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro– Selain minyak dan gas (Migas), Bojonegoro memiliki tambang pedel (tanah urug) yang kualitasnya tak kalah dengan tanah urug di wilayah Tuban, Jatim. Tambang galian C itu berada di beberapa kecamatan seperti Margomulyo, Malo, Purwosari, dan Baurno.
Sayangnya, sumber daya alam (SDA) itu belum terkelola secara maksimal oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Padahal, jika itu dikelola dipastikan akan menjadi salah satu sumber pendapatan.
“Seperti tanah urug di Baureno. Kualitasnya tak kalah bagusnya dengan dari daerah lain,†kata H. Sudarto, Direktur CV Dian Permata Agung (DPA).
Menurut dia, dari empat lokasi tanah urug itu paling bagus kualitasnya adalah diwilayah Kecamatan Baurno yakni terletak di Desa Gajah. Dengan luas lokasinya kurang lebih 62 hektar yang menempati lahan milik warga.
“Saya sudah melakukan kroscek langsung di sana (desa Gajah), Mas. Ternyata, barangnya tidak cuma pedel tapi juga Limestons. Sekarang ini lokasi pedel itu dimanfaatkan warga dengan menggalai manual untuk dibuat bata kumbung,†papar Darto.
Pria yang berdomisili di desa Katur, Kecamatan Kalitidu itu berharap, agar Pemkab Bojonegoro memanfaatkan lokasi pedel itu sebagai hasil tambang lain selain Migas. Dengan begitu warga Bojonegoro tidak susah payah ngambil tanah urug di daerah lain. Apalagi, sekarang ini, proyek besar seperti Blok Cepu dan Doubel Track tengah mulai dan membutuhkan tanah urug yang tak sedikit.
“Kalau diwilayahnya sendiri ada pedel bagus kenapa harus ngambil dari daerah lain. Ini akan jauh lebih memudahkan dan menguntungkan para pengusaha tambang dan tentunya menjadi sumber pendapatan daerah,†imbuh Sudarto. (suko)