SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Pemerintah Desa (Pemdes) Mojodelik, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa Timur menggelar musyawarah bersama warga setempat berkaitan dengan dua bulan keterlambatan beras bantuan dari operator Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
“Agendanya membahas dua bulan batuan beras belum dicairkan, yaitu bulan Mei dan Juni,” kata Kepada Desa (Kades) Mojodelik, Yuntik Rahayu, kepada Suarabanyuurip.com seusai musyawarah yang dilaksanakan di balai desa setempat, Senin (20/6/2016).
Dijelaskan, bantuan beras yang diberikan ke warga tersebut merupakan kompensasi atas dampak dari kegiatan flaring Banyuurip.
“Yang dicairkan pada hari Jumat (17/6) kemarin itu adalah jatah bulan April, dan untuk yang dua bulan terlambat itu, warga minta sebelum hari raya idul fitri sudah didistribusikan,” tutur Kades ring satu Banyuurip itu.
Ditambahkan, selain membahas keterlabatan pemberian bantuan beras, juga membahas tentang kepastian kapan pendistribusian keterlambatan bantuan beras dua bulan tersebut dilaksanakan. Kemudian, juga berkaitan lampu penerangan jalan yang ada disekitar proyek.
“Warga minta agar lampu penerangan jalan itu tidak diarahkan keluar pagar, tapi diarahkan ke dalam lokasi proyek. Karena, diduga cahaya lampu tersebut telah mengganggu pertumbuhan tanaman, dan mudah mendatangkan hama,” sambung Sekretaris Desa Mojodelik, Parlin Wibowo.
Parlin menjelaskan, jumlah total warga yang menerima kompensasi beras adalah lebih dari 1.300 kepala keluarga (KK). Hanya saja, jumlah yang diterima per KK tidak sama. Ada yang 30 kilogram (Kg) dan ada yang 10 Kg.
“Untuk warga Dusun Samben dan Ledok menerima 30 Kg per KK. Karena dua dusun itu dekat dengan flare. Sedanngkan, Dusun Rambitan, Dawung, Mojo, Gledengan, dan Dusun Sogo mendapat 10 Kg per KK,” ujarnya.
“Perwakilan dari EMCL yang hadir adalah Pak Ichwan dan Ali. Karena itu sebelum gejolak warga muncul semua permasalahan ini saya harap segera diselesaikan,” pungkasnya. (sam)