Warga Mojodelik Hentikan Proyek Blok Cepu

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Pemblokiran jalan menuju Well Pad A Banyuurip, Blok Cepu, oleh warga Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, tadi siang berbuntut. Pemerintah Desa dan warga Mojodelik meminta agar proyek pengurukan lahan di Well Pad A oleh PT. Tripatra Engineers & Constructors, pelaksana proyek Engineering, procurement and construction (EPC) 1 Banyuurip untuk Mobil Cepu Limited (MCL) dihentikan sementara.

Permintaan penghentian proyek itu disebabkan dalam pertemuan antara PT. Tripatra dengan tokoh masyarakat desa dan perwakilan pemuda yang difasilitasi Pemerintah Desa Mojodelik tidak menemukan titik temu. Warga Mojodelik meminta agar 50 persen tenaga kerja untuk proyek EPC 1 Banyuurip dari warga setempat, bukan dari luar desa. Namun, dalam pertemuan itu, Tripatra belum memberikan jawaban.

“Pokoknya kita minta semua tenaga kerja yang terlibat 50 persen harus dari warga Mojodelik. Baik itu tenaga kasar, semi skill maupun skill,” kata Ketua Karang Taruna Desa Mojodelik, Suyoto ketika dikonfirmasi melalui telepon genggamnya.

Menurut dia, permintaan yang diajukan warga Mojodelik ini sangat wajar. Sebab lebih dari 70 persen lahan warga telah terampas untuk kepentingan proyek migas Blok Cepu.

Baca Juga :   BPBD Data Titik Longsor Bibir Bengawan Solo

“Sudah seharusnya warga sini diprioritaskan bekerja. Karena sumur minyak dan proyek ini berada disini, bukan justru warga dari desa lainnya,” tegas pria berkulit putih ini.

Dia mencontohkan, seperti pelatihan scaffolding certification training (pelatihan sertifikasi scaffolder) tidak ada satupun warga Mojodelik yang dilibatkan.

“Kita akan melakukan terus pemblokiran jalan menuju lokasi proyek Well Pad A sampai tuntutan kami dipenuhi,” ancam Suyoto.

Sekarang ini, ada sekitar 20 pemuda masih melakukan pemblokiran jalan menuju lokasi proyek Well Pad A Banyuurip. Dalam pemblokiran ini, para muda akan berjaga di lokasi pemblokiran secara bergantian yang dibagi dalam empat waktu. Yakni malam sampai pagi, pagi sampai sore, dan malam dan pagi.

“Akan kita gilir. Setiap berjaga kita akan kerahkan 20 orang. Pokonya kita akan menghentikan aktifitas proyek ini sampai ada titik temu,” pungkasnya.

Dalam pertemuan itu, Pemerintah Desa Mojodelik dan warga juga meminta kepada Tripatra untuk membuat surat kesepakatan tentang rekruitmen tenaga kerja dengan enam desa disekitar Lapangan Banyuurip. Yakni Desa Gayam, Mojodelik, Bonorejo, Brabowan, Begadon dan Ringintunggal yang semuanya masuk wilayah Kecamatan Ngasem. Surat tersebut harus bermaterai dan ditandatangani masing-masing kepala desa.

Baca Juga :   Kecelakaan Sekitar Pabrik SI, Satu Tewas

“Kita tidak mau dibohongi lagi oleh Tripatra. Sejak dulu mereka hanya memberikan janji-janji tapi tidak pernah terealiasi,” sambung Kepala Desa Mojodelik, Sandoyo.

Dikonfirmasi terpisah, Budi Karyawan, Community Affairs PT. Tripatra Engineers & Constructors, mengaku akan menyampaikan permsalahan tersebut kepada pihak manajemen.

“Saya tidak berani memutuskan. Akan kita sampaikan hasilnya ke manajemen dulu,” timpal Budi.

Untuk diketahui, pemblokiran jalan yang berujung penghentian proyek ini dipicu oleh tidak terekrutnya warga Mojodelik dalam pelatihan elatihan sertifikasi scaffolder oleh Tripatra. dari 24 orang yang dilatih tidak ada satupun dari warga Mojodelik. (suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *