SuaraBanyuurip.com -Ririn Wedia
Bojonegoro – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timu melakukan pendataan beberapa titik bantaran Sungai Bengawan Solo yang terancam longsor. Hal itu dilakukan menyusul surutnya debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa yang biasanya diiringi dengan longsornya bibir bengawan.
Kepala BPBD Bojonegoro, Amir Syahid, mengatakan, dari hasil pendataan yang dilakukan, potensi ancaman longsor yang terjadi di wilayah kota Bojonegoro diantaranya meliputi Kelurahan Jetak, Kauman, Ledok Kulon dan Wetan, serta Desa Banjarsari. Selain mengancam wilayah permukiman, longsor juga mengancam beberapa areal pertanian.
“Kita masih berkoordinasi dengan instansi terkait untuk pendataan ini,” kata Amir kepada suarabanyuurip.com, Jum’at (17/1/2014).
Dia menyatakan, saat ini memasuki cuaca hujan yang ekstrim dan diperkirakan terjadi hingga bulan Maret 2014. Sesuai prakiraan BMKG hujan masih sering terjadi, namun puncaknya terjadi pada bulan Januari hingga Pebruari.
“Warga tetap perlu mewaspadai adanya longsor dan banjir sampai Maret,” pesan Amir.
Dari pantauan di lapangan, salah satu wilayah yang longsor dan mengenai rumah warga diantaranya terdapat di Kelurahan Jetak, Kecamatan Bojonegoro. Sedikitnya ada lima rumah yang sudah terkikis longsor. Longsor tersebut diperkirakan akan terus bertambah mengingat lokasi tersebut merupakan daerah tikungan aliran air sungai bengawan solo.
“Ini kemarin tambah lagi longsornya,” ujar Teguh Jiwandono, Warga Kelurahan Jetak yang rumahnya terkikis longsor.
Saat ini longsor tersebut diperkirakan sudah mencapai setinggi 5 meter dan lebar 10 meter. Sebelumnya wilayah tersebut sudah diurug menggunakan batu dan diberonjong. Namun karena terkena arus banjir akhirnya batu dan beronjong tersebut hilang.
“Ini disebelah juga mulai longsor lagi usai banjir lalu,” tutur Teguh.
Lima rumah yang terkikis banjir tersebut terparah milik Tuminah. Bahkan Tuminah sudah mengosongkan rumahnya dan kini ikut tinggal bersama anaknya.
Selain milik Tuminal longsor tebing sungai bengawan solo juga mengenai rumah milik Slamet (60), Siti (68), Karjiman (45) dan Teguh Jiwandono (43). Rata-rata rumah warga terbuat dari tembok dan kayu.
“Kalau yang masih tinggal ini terpaksa membuat tenda di depan rumah untuk menyimpan barang-barang berharga. Sementara tidur ikut tetangga,” kata Teguh, menjelaskan.
Pada musim hujan seperti saat ini warga setempat mengaku was-was jika terjadi longsor susulan. Apalagi saat ini sudah ada tanda-tanda terjadi longsor. Dia berharap pemerintah segera membangun beronjong diwilayah tersebut.(rien)